Tak akan rugi, hidup ditemani sahabat yang “mengenal jalan”.
Iya, saya meyakini benar kalimat ini. Setelah kemarin pagi mesti mendadak pergi ke Cilegon. Bukan soal mendadak waktunya. Melainkan mendadak tanpa sopir yang biasa mengantar. Padahal saat diantar itulah, saya terbiasa duduk manis membaca buku. Atau mungkin ngobrol dengan beliau yang mengantarkan saya. Atau kadang kala mengemil makanan ringan. Atau mungkin yang terakhir, duduk memejam, menyandar lebih ke belakang bila udara dari mulut tak mampu tertahan.
Namun kemarin, adalah hari dimana saya mendadak mesti berangkat sendiri. Lebih tepatnya bersama teman yang juga masih “meraba” tempat tujuan. Sayangnya, sebanyak apapun yang menemani, bila semuanya masih “meraba” maka nyaris seperti berjalan sendiri. Walaupun setidaknya, ada teman untuk berbagi serta merasakan bingung dan kesusahan yang sama.
Perjalanan tanpa orang yang “mengenal jalan” inilah yang menghilangkan ketentraman. Sebelum perjalanan, saya mesti tanya sana sini tentang lokasi persisnya, dan jalan-jalan yang akan membawa saya pada tujuan. Jangankan jauh-jauh, masuk dan keluar tol mana saja saya linglung. Padahal ternyata tol itu sering saya lewati, nyaris setiap hari.
Ketenangan pun terusik ketika BWM hitam yang dikendarai menyodorkan saya pada perlintasan jalan. Lurus, kiri, atau kanan? Sungguh pilihan yang sebenarnya amat mudah bagi pak sopir yang biasa mengantar saya. Pemandangan alam dibalik jendela mobil yang biasanya saya nikmati, menjadi sebuah gambar mendebarkan, penuh ketidakpastian arah.
Detik-detik di mobil yang biasa saya manfaatkan untuk membaca, kini berubah menjadi detik-detik yang tak boleh terlewatkan untuk memperhatikan seluruh tanda dan arah jalan. Empuknya kursi dan nyamannya AC, nyaris tak mampu saya rasakan.
Memang benar, masih ada sahabat yang menemani. Menemani dengan kemampuan “meraba-raba”nya. Maka obrolan kami hanya sebatas diskusi orang-orang yang sama-sama meraba. Jika rabaan itu benar, kami bersorak. Dan ketika salah, senyum nyinyir sama-sama tersimpul menertawakan ketidaktahuan kami.
Walaupun akhirnya kami sampai pula di tempat tujuan, nyatanya kami harus berputar sana-sini terlebih dahulu, itu pun dengan hati yang was-was. Benar-benar telah tercabut ketentraman dan kenyamanan.
Jakarta-Cilegon, hanyalah perjalanan darat jarak pendek. Saya jadi membayangkan, perjalanan-perjalanan udara saya. Bagaimana jadinya bila saya dan teman yang sama-sama “meraba” arah itu harus mencari tempat tujuan dan mengemudikan sendiri pesawat tersebut menggantikan pilot yang “mengenal jalan”? hehehe
Jika perjalanan fisik saja sedemikian membutuhkan sahabat yang “mengenal jalan”. Tentulah sebuah perjalanan jiwa lebih membutuhkannya lagi. Jiwa kita butuh ditunjukkan lokasi tujuan. Butuh ditunjukkan arah. Butuh ditunjukkan gerbang tolnya. Butuh ditunjukkan belokan mana saja. Butuh ditunjukkan tanda-tanda apa saja yang mengarah pada tujuan.
Dan apa yang dibutuhkan jiwa kita, semua jawabannya ada pada Allah yang Maha Mengetahui.
Maka dari itulah setiap muslim selalu mengemis ditunjukkan jalan. Paling sedikitnya 17 kali sehari dalam shalatnya. Kitalah insan yang tak mengenal arah itu. Kitalah insan yang membutuhkan sang Maha Tahu itu. Yang menunjukkan kita pada tujuan akhir perjalanan jiwa ini.
Maka mendekatlah kepadaNya, agar Ia menunjukkan jalan. Begitu kita dekat denganNya, Dialah yang akan “turun” menemani perjalanan kita. Yang syariatnya dalam wujud sahabat-sahabat kita yang telah “mengenal jalan”. Sahabat yang “mengenal jalan” inilah yang mengantar kita sampai ke tempat tujuan, sambil kita membaca buku, sambil ngemil makanan ringan, sambil menikmati sebagian keindahan duniawi. Dan inilah yang disebut dengan terpenuhinya kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat (fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah). Menikmati nikmat dunia dan sampai pada kebahagiaan di surga nan abadi.
Terima kasih sahabat…
Love you forever coz Allah. (Insan Sains)
Jakarta, 24 Februari 2009, 21:12 WIB
Filed under: Renungan, hidup, jalan, jiwa, kebahagiaan, perjalanan, sahabat, shalat, surga
Komentar Terakhir