Bermula dari Sang Pemilik Cinta
Membuka panggung bernama takdir
Memaksa waktu mengulum kagum
Menyingkap jiwa memendam suka
Menyipu degup meniup desir
Hingga karenaNya cinta pun terlahir
Bukan dari tatapan mata cinta ini tercipta
Bukan karena rayuan syahwat cinta ini sarat
Pesona jiwalah satu alasan
Kaki jenjangnya menapak bumi
Namun jiwanya mengembara jauh ke langit cinta
Menatap hidup dengan satu cita
Mengharap cinta Sang Pemilik Cinta
Cinta telah memberiku cahaya
Memunculkan segala kebaikan jiwa yang terpendam
Cinta telah memberiku keyakinan
Sayap ini tak akan pernah patah
Saat satu mengepak, pasti ada sayap lain yang menyempurnakan
Setidaknya, itulah sayap Sang Pemilik Cinta
Inilah cintanya cinta
Inilah rindunya rindu
Merindukan cinta yang mengundang
Cinta dari Sang Pemilik Cinta
Duhai perempuan di ujung sana…
Akan datang ujian demi ujian
Tapi yakinlah, kita akan melewatinya bersama
di taman hati yang rindang dengan pohon cinta
di tempat yang kita namakan
Surga sebelum surga yang sebenarnya
Duhai perempuan di ujung sana…
Nantikan kuletakkan tangan kananku diatas ubun-ubunmu
Ku tiup kuncupmu perlahan
Dengan lembut kan kulantunkan
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu kebaikan perempuan ini
dan semua kebaikan yang tercipta bersama penciptaannya“
Dan nafas cinta, membuka kuncupmu
Mekar menjadi bunga di taman surga
Menggandengmu mesra menjadi bintang di langit sejarah
Dan cinta jiwa akan mengantarkan kita pada suatu akhir
Dimana cinta kita tak akan pernah berakhir
(Insan Sains)
Bandung, 15 Februari 2009, 22:11 WIB
* Terinspirasi dari tulisan Buya Hamka serta teman yang curhat tentang kisah cintanya di malam 1 Muharram yang lalu di mesjid Daarut Tauhiid Bandung. Barakallah akhi… barakallah…
Filed under: Puisi, bunga, buya hamka, cinta, manusia langit, mekar, perempuan, rindu, surga, takdir
Komentar Terakhir