Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Loundry Akhirat

Sejak kemarin langit Jakarta tak membuka tirai. Matahari kehilangan peran. Bahkan hari ini pun masih tersimpan di belakang layar. Kemunculannya saya harapkan, bukan saja karena dingin yang merangkul dini pagi. Namun juga karena pakaian kotor sudah bertumpuk. Dan tumpukan itu baru disadari ketika lemari pakaian hanya menyisakan beberapa potong pakaian saja.

Ketidakhadiran matahari siang ini menambah kekhawatiran, mengingat Senin pagi harus berangkat ke Aceh. Mustahil saya berangkat ke sana, tanpa perbekalan. Dan pakaian adalah salah satunya. Maka dengan sangat terpaksa saya harus pergi ke Loundry. Membawa beberapa potong kemeja, jas dan baju koko dengan harapan besok sudah bersih dan kering.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , , , , , , , ,

Friday on Earth…

Sungguh luar biasa keadaan jiwa yang telah tersemai iman. Tak secuil pun ujian hidup mampu menyakiti hatinya. Tak sedikit pun kesempitan hidup membuatnya bersedih hati. Masalah, bukanlah batu sandungan yang membuatnya merengek, menatap pasrah dan lunglai terkapar. Ia akan terus berlari menggapai tujuannya. Menghapus keringat dan meneruskan pencariannya. Bila ia terjatuh ia akan segera bangkit. Kehidupan telah membuatnya serasa dalam lautan kesabaran.

Pun bila ia dilimpahi kenikmatan, bukan pesta pora yang dirayakan. Jiwanya melesat tinggi menghatur syukur. Lisannya meranum tahmid bak buah di tanah subur. Raganya senantiasa berdzikir, tak pernah tidur. Hidup dalam limpahan nikmat, tidak menjadikannya orang yang lupa terhadap Sang Pemberi Nikmat. Melainkan menjadi bukti kesyukuran seorang hamba yang tak punya kuasa.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

Di Depan Mata…

Pagi memang begitu indah ya. He em. Setelah shalat shubuh berjamaah di mesjid, saya biasa mengelilingi lingkungan sekitar. Sekedar berjalan santai, menghirup udara pagi yang masih bersih. Dan masih menggunakan sarung dan peci. 😀 Merasakan nikmatnya kesejukan embun pagi (bukan embun cinta). Dan embun itu bukan hanya memberikan kesejukan bagi raga, tapi juga masuk ke dalam jiwa. Suatu saat kita akan tenggelam dalam hikmah embun, tapi kali ini biarlah saya menulis tak tentu arah. Sekedar meluahkan isi hati dan benak.

Dalam satu minggu. Ada satu hari dimana saya mewajibkan diri saya selalu masuk kantor lebih awal dari biasanya. Jika biasa masuk jam setengah delapan, maka saya mewajibkan diri saya masuk jam enam pagi. Sebagaimana hari ini.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Personal, , , , , , , ,

Sahabat dalam Perjalanan..

Tak akan rugi, hidup ditemani sahabat yang “mengenal jalan”.

Iya, saya meyakini benar kalimat ini. Setelah kemarin pagi mesti mendadak pergi ke Cilegon. Bukan soal mendadak waktunya. Melainkan mendadak tanpa sopir yang biasa mengantar. Padahal saat diantar itulah, saya terbiasa duduk manis membaca buku. Atau mungkin ngobrol dengan beliau yang mengantarkan saya. Atau kadang kala mengemil makanan ringan. Atau mungkin yang terakhir, duduk memejam, menyandar lebih ke belakang bila udara dari mulut tak mampu tertahan.

Namun kemarin, adalah hari dimana saya mendadak mesti berangkat sendiri. Lebih tepatnya bersama teman yang juga masih “meraba” tempat tujuan. Sayangnya, sebanyak apapun yang menemani, bila semuanya masih “meraba” maka nyaris seperti berjalan sendiri. Walaupun setidaknya, ada teman untuk berbagi serta merasakan bingung dan kesusahan yang sama.

Perjalanan tanpa orang yang “mengenal jalan” inilah yang menghilangkan ketentraman. Sebelum perjalanan, saya mesti tanya sana sini tentang lokasi persisnya, dan jalan-jalan yang akan membawa saya pada tujuan. Jangankan jauh-jauh, masuk dan keluar tol mana saja saya linglung. Padahal ternyata tol itu sering saya lewati, nyaris setiap hari. 😀

Ketenangan pun terusik ketika BWM hitam yang dikendarai menyodorkan saya pada perlintasan jalan. Lurus, kiri, atau kanan? Sungguh pilihan yang sebenarnya amat mudah bagi pak sopir yang biasa mengantar saya. Pemandangan alam dibalik jendela mobil yang biasanya saya nikmati, menjadi sebuah gambar mendebarkan, penuh ketidakpastian arah.

Detik-detik di mobil yang biasa saya manfaatkan untuk membaca, kini berubah menjadi detik-detik yang tak boleh terlewatkan untuk memperhatikan seluruh tanda dan arah jalan. Empuknya kursi dan nyamannya AC, nyaris tak mampu saya rasakan.

Memang benar, masih ada sahabat yang menemani. Menemani dengan kemampuan “meraba-raba”nya. Maka obrolan kami hanya sebatas diskusi orang-orang yang sama-sama meraba. Jika rabaan itu benar, kami bersorak. Dan ketika salah, senyum nyinyir sama-sama tersimpul menertawakan ketidaktahuan kami.

Walaupun akhirnya kami sampai pula di tempat tujuan, nyatanya kami harus berputar sana-sini terlebih dahulu, itu pun dengan hati yang was-was. Benar-benar telah tercabut ketentraman dan kenyamanan.

Jakarta-Cilegon, hanyalah perjalanan darat jarak pendek. Saya jadi membayangkan, perjalanan-perjalanan udara saya. Bagaimana jadinya bila saya dan teman yang sama-sama “meraba” arah itu harus mencari tempat tujuan dan mengemudikan sendiri pesawat tersebut menggantikan pilot yang “mengenal jalan”? hehehe 😀

Jika perjalanan fisik saja sedemikian membutuhkan sahabat yang “mengenal jalan”. Tentulah sebuah perjalanan jiwa lebih membutuhkannya lagi. Jiwa kita butuh ditunjukkan lokasi tujuan. Butuh ditunjukkan arah. Butuh ditunjukkan gerbang tolnya. Butuh ditunjukkan belokan mana saja. Butuh ditunjukkan tanda-tanda apa saja yang mengarah pada tujuan.

Dan apa yang dibutuhkan jiwa kita, semua jawabannya ada pada Allah yang Maha Mengetahui.

Maka dari itulah setiap muslim selalu mengemis ditunjukkan jalan. Paling sedikitnya 17 kali sehari dalam shalatnya. Kitalah insan yang tak mengenal arah itu. Kitalah insan yang membutuhkan sang Maha Tahu itu. Yang menunjukkan kita pada tujuan akhir perjalanan jiwa ini.

Maka mendekatlah kepadaNya, agar Ia menunjukkan jalan. Begitu kita dekat denganNya, Dialah yang akan “turun” menemani perjalanan kita. Yang syariatnya dalam wujud sahabat-sahabat kita yang telah “mengenal jalan”. Sahabat yang “mengenal jalan” inilah yang mengantar kita sampai ke tempat tujuan, sambil kita membaca buku, sambil ngemil makanan ringan, sambil menikmati sebagian keindahan duniawi. Dan inilah yang disebut dengan terpenuhinya kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat (fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah). Menikmati nikmat dunia dan sampai pada kebahagiaan di surga nan abadi.

Terima kasih sahabat…

Love you forever coz Allah. (Insan Sains)

Jakarta, 24 Februari 2009, 21:12 WIB

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

I’m Happy Now and For Ever…

Kadang kala hidup ini tidak selamanya manis. Adakalanya, atau mungkin lebih sering pahit serasa bratawali. Namun bagaimana pun kepahitan itu harus tetap kita telan. Saat ini saya sedang dilanda sebuah musibah. Sungguh berat sekali menerimanya untuk yang kesekian kalinya, dengan bobot yang lebih dahsyat.

Langit serasa runtuh, bintang-bintang rasanya berjatuhan. Nyaris saya tak mampu berdiri lagi. Beruntunglah saya memiliki sahabat-sahabat terbaik yang senantiasa memberikan saya nasihat. Dulu saya sering curhat dengan Aa Gym, sekarang ketika pindah ke Jakarta ada seorang guru mengaji saya yang amat menyayangi saya.

Setelah mengadu kepada Allah, jalan syariatnya adalah meminta nasihat dan hembusan semangat dari sahabat-sahabat, terutama guru mengaji saya ini. Inilah salah satu email balasan dari beliau :

22 Feb 2009, 22:02

Re: Help Me….!!!

akhi…. beruntunglah antum, karena Alloh Yang Maha Kasih telah memilih antum sbg pemeran utama dari skenario yang Alloh sendiri yg tulis. maka satu pertanyaan buat antum.;

“Are You Happy…?”

akhi…jika antum, dalam kondisi apapun, dimanapun berada. tetap katakanlah pada diri dan hati antum: I Am Happy…

happy berarti ketulusan dalam menerima setiap kondisi baik positif maupun negatif. happy berarti ungkapan rasa syukur yang paling dalam kepada Allah. happy merupakan ungkapan keyakinan yang mengakar dalam jiwa..

ingatlah akhi, jika seseorang diberikan suatu peran dalam sebuah skenario hidup ini yang negatif lalu ia tidak ikhlas menerima, bahkan sampai sakit hati, berarti ia belum siap hidup, belum siap untuk ditayangkan menjadi dunia nyata.

ambillah air wudhu, shalatlah dua rakaat, duduklah sempurna sejenak diatas sejadah itu, rileks &lemaskan seluruh persendian otot dan syaraf, mulailah tarik nafas panjang tahan sejenak dan keluarkan pelan2, ulangi beberapa kali sampai fisik, jiwa dan hati terasa tenang. pejamkan mata sesaat, salah satu atau kedua tangan letakkan di dada, dan tersenyum pada hatimu sendiri, senyumlah untuk dirimu sendiri yang luar biasa itu. paksakan mulut & ekspresi wajah untuk tetap terseyum. ulangi beberapa kali dan tetaplah tersenyum pada hati dan diri antum yang luar biasa itu.

akhi…berucaplah untuk diri antum sendiri. terima kasih ya Alloh, hari ini Engkau telah berikan pelajaran kepada hamba, aku yakin bahwa jika engkau yang berkehendak, itu pasti yang terbaik untuk hamba,,karena engkau telah bersabda : maa kholakta hadza bathila, subhanaka fakina adzabannar…”

akhi, diri antum lebih besar dari masalah yang sedang antum hadaapi, janganlah antum jadikan bahwa masalah itu seolah lebih besar dari diri antum sekali.

tetap tersenyumlah… dan katakan ; i am happy…! Hati adalah pancaran kekuatan Ilahi, jagalah ia, maka antum kan mendapatkan ultimate success & happiness…

sekali lagi…ana salut, dan luar biasa…antum sudah naik tangga, karena telah melewati satu dari sekian banyak tahapan ujian hidup ini…

dan BERSIAPLAH untuk mendapatkan yang terbaik dari Alloh, jika antum tetap tersenyum (sabar, syukur & tawakal)

oke… the show must go on…. look at for future

akhukum fillah

Terima kasih ustadz…!!!

I’M HAPPY NOW AND FOR EVER…

Jika semua bintang sudah berjatuhan. Maka saya sendiri yang akan menjadi bintang untuk malam yang di nanti seluruh insan.

>> Sendiri A?

Ya nggak dunks.. kan nanti ada rembulan yang akan nemenin.. 😀

Udah ah.. udah lewat tengah malem. Mau gosok gigi, cuci kaki. Bobo. Pasang waker di jam 02:00. Dan lanjutin curhat dengan sang pemilik nafas. Masak apa ya buat sahur?

>> Masak air A..!!

Hahaha.. air? Tapi gpp. Air panas plus susu, dan sekerat roti. :D(Insan Sains)

Jakarta, 22 Februari 2009, 23:38 WIB

Filed under: Personal, , , , , , , , , , , ,

Silent…

lonely man

Filed under: Personal, , , ,

Kalimat Cinta Paling Agung

Sepulang dari mengisi sebuah workshop di Tangerang, saya bertemu dengan seorang ibu muda di dalam sebuah angkot (beruntunglah sopir pribadi kantor tidak mengantarkan pulang sampai rumah). Tidak nampak guratan pengalaman menjadi seorang ibu. Dahi dan kulit wajahnya amat bersih dan nyaris tak berkerut. Meski demikian, tak sulit bagi ibu muda itu untuk memahami bahwa bayi yang sedang dipangkunya membutuhkan cinta.

Selendang coklat melingkar dari perut, pundak lalu ke punggung. Memangku si bayi dalam pangkuan cinta. Tangan yang satu menyangga kepala si bayi, dan tangan yang lain mendekap hangat menyelimuti. Sesekali dekapan itu berubah menjadi tepukan lembut. Tepukan mesra tanda cinta. Meyakinkan yang dicinta bahwa ada orang yang siap melindungi dan akan selalu bersama.

Sungguh saya terpesona menyaksikan cinta yang tepat berada di hadapan saya. Pandangan saya mulai meraba sekujur tubuh ibu muda itu, hingga lekatlah saya dengan wajah mungil si bayi. Nampak lembut kulitnya, masih sedikit memerah. Matanya terpejam nyaman. Bibir mungilnya tertutup santai. Sesekali bibir mungil itu bergerak-gerak imut. Menarik-narik dagu manisnya. Pipinya nyaris merekah. Benar-benar wajah tanpa beban. Wajah tak secuil khawatir. (Ah.. seandainya saya memiliki wajah seperti bayi tersebut)

Si bayi tak pernah bertanya akan dibawa kemana oleh ibunya. Tak juga ia bertanya mengapa harus menggunakan angkot. Tak juga bertanya akan berapa lama lagi perjalanan mereka. Bukan hanya si bayi tak mampu mengucap. Tapi karena itulah fitrahnya keyakinan (baca : iman). Ketika keraguan tak berbenih, maka tak akan ada tanya, yang ada hanyalah percaya. Percaya bahwa dia ada untuk saya, percaya bahwa dia tidak mungkin menyakiti saya, percaya bahwa dia mencintai saya. Kepercayaan inilah yang menjadikan hidup tak berbeban. Hidup bahagia tak ada kekhawatiran.

Begitulah seharusnya keyakinan yang saya miliki. Berserah totalitas, memusnahkan segala keraguan. Sehingga hanya akan ada satu keyakinan dan cinta. Yaitu yakin kepada Yang Maha Berkuasa dan mencintai Sang Pemberi Cinta. Cinta yang membuat kita yakin bahwa Allahlah pemberi kebahagiaan. Yakin bahwa Allah tak akan menyakiti hambaNya. Yakin bahwa Allahlah yang akan menolong.

Maka ketika keyakinan itu sudah ter-sibghah dalam diri. Tak akan lagi ada pertanyaan mengapa kita mesti shalat, mengapa kita mesti puasa, mengapa kita mesti menutup hijab, mengapa kita mesti menjaga pandangan, mengapa kita mesti ini, mengapa kita mesti itu, mengapa tidak boleh memakan daging babi, mengapa tidak boleh minum khamar, mengapa tidak boleh ini, mengapa tidak boleh itu.

Yang ada hanyalah kalimat cinta paling agung, “sami’na wa atha’na” (kami dengar, dan kami taat). Maka saat itulah kebahagiaan mampu kita rengkuh. Yang akan terpancar pada wajah layaknya bayi yang tertidur tanpa beban… (Insan Sains)

Jakarta, 21 Februari 2009, 01:02 am WIB

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

Ada Jarak…

Ada jarak antara langit dan bumi. Dan jarak itu bisa dipandang dekat oleh sebagian orang. Ada pula yang memandangnya jauh.

Begitu pula terhampar jarak antara diri kita dan cita-cita. Dan jarak itu bisa jadi sangat dekat. Atau bisa jadi sangat jauh.

Jauh-dekat jarak itu, tergantung dari KEYAKINAN kita. Jika keyakinan kita kuat, maka jarak nyaris sirna.

Untuk meraih cita-cita memang berat, TAPI bisa dicapai. Keyakinan inilah yang membuat cita-cita dekat dengan kita. Sedangkan mereka yang berkata, “Cita-cita bisa dicapai, TAPI berat”. Mereka telah membuat jarak dengan cita-citanya.

Begitulah kedekatan kita dengan Sang Penguasa Semesta. Semakin yakin kita kepadaNya, maka jarak itu telah sirna. Itulah yang menyebabkan tiap pandangan adalah pandanganNYA, tiap pendengaran adalah pendengaranNYA, tiap tutur adalah tuturNYA. Mereka telah menjadi kaki-tangan Allah di bumi. Karena mereka…….

Telah menghilangkan jarak dengan Tuhan mereka.

Jika saya mengaku beriman, yakin kepadaNya di lisan, namun saya masih berbuat maksiat, masih bermalas-malas, tidak mengoptimalkan potensi, maka itu berarti keyakinan saya masih perlu dipertanyakan. Dan saya masih amat jauh dari Allah.. masih jauh.. jauh sekali… (hiks.. hiks.. hiks…. 😦 )

Allah itu maha dekat bukan? Lebih dekat dari urat leher. Maka mengapa masih membuat jarak? Jawabannya adalah, belum sempurnanya keyakinan.

* Terima kasih kawan untuk taujih semalam. Setelah ini, tidak akan ada lagi jarak. Tidak ada. Yang ada hanyalah KEDEKATAN. (Insan Sains)

Jakarta, 20 Februari 2009, 8:57 WIB

Filed under: Renungan, , , , , , , , , ,

Jiwa yang penuh Harap

Dunia adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung diatas jembatan.

Saya tak sanggup berkata-kata lagi ketika merenungi kutipan hikmah diatas. Sungguh tak bisa. Lama saya ingin mencoba menuliskan sesuatu, malah tergores air mata di pipi. (Insan Sains)

Jakarta, 18 Februari 2009, 21:58 WIB

Filed under: Renungan, , , ,

Laman

Arsip

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Insan’s Projects

Insan Sains Projects

RSS Insan Sains Projects

Insan at Forum Sains

Insan Sains @ ForSa

RSS Forum Sains

  • Re:osn fisika 20 Oktober 2017
    Tergantung, untuk seleksi tingkat kabupaten/ kota (OSK) biasanya materinya cuman Mekanika. Tapi kalau udah naik tingkat sampai provinsi atau nasional materinya makin nambah kayak listrik magnet, optik, panas dan termo sampai Fisika Modern. Selamat berj...
  • Re:(Pertanyaan) Materi pra-kalkulus fraksional 19 Oktober 2017
    simak pemakaian kalkulus fraksional :https://en.wikipedia.org/wiki/Fractional_calculus[ Invalid YouTube link ]
  • Re:Penyakit Misterius yang Tidak pernah Didengar 17 Oktober 2017
    kuru itu penyakit karena prion sebenarnya. kanibalismenya sendiri menyebarkan prion karena yang dimakan adalah otak orang-orang yang meninggal karena kuru (fun fact, kanibalisme di kebudayaan Fore maksudnya nggak makan orang hidup-hidup, tapi habis pem...
  • Re:Siapa Bilang Tumbuhan Tidak Punya Otak? 17 Oktober 2017
    menurut kbbi, otak:n benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf; benak: n alat berpikir; pikiran; benak: tajamotak yang dimaksud di sini pusat saraf kan ya? walaupun tanaman bisa mentransfer sinyal dengan pote...
  • Re:Tumbuhan Bisa Tahu, Siapa yang Menyantap Dirinya 17 Oktober 2017
    ada indikasi juga kalo tanaman bisa mendeteksi suara atau getaran, misalnya akar tumbuh ke arah pipa yang mengalirkan air, Arabidopsis menghasilkan racun saat diperdengarkan suara kunyahan ulat dsb. Makanya polusi suara sebenarnya berdampak buruk juga ...