Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Kalimat Cinta Paling Agung

Sepulang dari mengisi sebuah workshop di Tangerang, saya bertemu dengan seorang ibu muda di dalam sebuah angkot (beruntunglah sopir pribadi kantor tidak mengantarkan pulang sampai rumah). Tidak nampak guratan pengalaman menjadi seorang ibu. Dahi dan kulit wajahnya amat bersih dan nyaris tak berkerut. Meski demikian, tak sulit bagi ibu muda itu untuk memahami bahwa bayi yang sedang dipangkunya membutuhkan cinta.

Selendang coklat melingkar dari perut, pundak lalu ke punggung. Memangku si bayi dalam pangkuan cinta. Tangan yang satu menyangga kepala si bayi, dan tangan yang lain mendekap hangat menyelimuti. Sesekali dekapan itu berubah menjadi tepukan lembut. Tepukan mesra tanda cinta. Meyakinkan yang dicinta bahwa ada orang yang siap melindungi dan akan selalu bersama.

Sungguh saya terpesona menyaksikan cinta yang tepat berada di hadapan saya. Pandangan saya mulai meraba sekujur tubuh ibu muda itu, hingga lekatlah saya dengan wajah mungil si bayi. Nampak lembut kulitnya, masih sedikit memerah. Matanya terpejam nyaman. Bibir mungilnya tertutup santai. Sesekali bibir mungil itu bergerak-gerak imut. Menarik-narik dagu manisnya. Pipinya nyaris merekah. Benar-benar wajah tanpa beban. Wajah tak secuil khawatir. (Ah.. seandainya saya memiliki wajah seperti bayi tersebut)

Si bayi tak pernah bertanya akan dibawa kemana oleh ibunya. Tak juga ia bertanya mengapa harus menggunakan angkot. Tak juga bertanya akan berapa lama lagi perjalanan mereka. Bukan hanya si bayi tak mampu mengucap. Tapi karena itulah fitrahnya keyakinan (baca : iman). Ketika keraguan tak berbenih, maka tak akan ada tanya, yang ada hanyalah percaya. Percaya bahwa dia ada untuk saya, percaya bahwa dia tidak mungkin menyakiti saya, percaya bahwa dia mencintai saya. Kepercayaan inilah yang menjadikan hidup tak berbeban. Hidup bahagia tak ada kekhawatiran.

Begitulah seharusnya keyakinan yang saya miliki. Berserah totalitas, memusnahkan segala keraguan. Sehingga hanya akan ada satu keyakinan dan cinta. Yaitu yakin kepada Yang Maha Berkuasa dan mencintai Sang Pemberi Cinta. Cinta yang membuat kita yakin bahwa Allahlah pemberi kebahagiaan. Yakin bahwa Allah tak akan menyakiti hambaNya. Yakin bahwa Allahlah yang akan menolong.

Maka ketika keyakinan itu sudah ter-sibghah dalam diri. Tak akan lagi ada pertanyaan mengapa kita mesti shalat, mengapa kita mesti puasa, mengapa kita mesti menutup hijab, mengapa kita mesti menjaga pandangan, mengapa kita mesti ini, mengapa kita mesti itu, mengapa tidak boleh memakan daging babi, mengapa tidak boleh minum khamar, mengapa tidak boleh ini, mengapa tidak boleh itu.

Yang ada hanyalah kalimat cinta paling agung, “sami’na wa atha’na” (kami dengar, dan kami taat). Maka saat itulah kebahagiaan mampu kita rengkuh. Yang akan terpancar pada wajah layaknya bayi yang tertidur tanpa beban… (Insan Sains)

Jakarta, 21 Februari 2009, 01:02 am WIB

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

9 Responses

  1. nenyok berkata:

    Salam
    Well bukankah begitupun saat kita merasa berduka? itulah cinta dari Sang Pencipta jadi dirimu tak perlau bertanya mengapa.

    tak ada kata tak bisa 🙂

    Eh kue and es tehnya di SENYAWA abisin ya, mumpung gw lagi baek, gratis kok, tenang aja 😀

  2. anintadiary berkata:

    dan bahkan cinta yang begitu agung “hanya” satu dari 100 cinta Allah…*see http://anintadiary.wordpress.com/2009/02/12/kasih-sayang-allah/ *

    siap kejar yang 99?Siaaaapppppp!!!

  3. Laki-laki Biasa berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb., Kang Insan…

    Mencintai butuh keikhlasan..seperti juga ibu tersebut yg sangat ikhlas mencintai bayinya. Demikian juga kita sebagai hamba-NYA..mencintai-NYA membutuhkan keikhlasan, coz mencintai-NYA bisa dilakukan dengan berbagai macam hal, misalnya bersabar dan ikhlas menerima segala ujian dan cobaan dari-NYA. Karena harus diyakini bahwa cobaan dan ujian yg diberikan-NYA adalah untuk mempertajam iman kita.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.,

  4. Laki-laki Biasa berkata:

    Maaf Kang.. bukan maksud saya untuk menggurui.. Maaf.

  5. bolang berkata:

    wah, lagi ngomongin cinta ya…
    ikut degerin ah… ^_^

  6. ari berkata:

    hehehe lagi musim cinta kali ya aya, iya kan mas Insan??? kadang cinta itu mudah datang dan mudah pergi, wah habis dr Tangerang ta??? kok ga bilang2 ke ari hehehehe 😀

  7. wi3nd berkata:

    semo9a daku bisa meren9kuh cintaNYA…

    aduuchhh..meski berat& harus tertatih..
    klu tau 9inih mendin9 jadi bayi ajah terus yaa..hehehhe..

    ** plaakkkk sendal mlayan9..hehehh

  8. Mbahkoeng berkata:

    betapa indahnya hidup di dunia ini jika kita selalu mencintai dan dincintai !!

  9. Shanty berkata:

    Iya..ya…
    Kebanyak orang semakin dewasa, semakin jauh padanya, semakin banyak keinginannya, dan semakin kurang rasa syukurnya…

    Makasih udah diingetinnn!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: