Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Sahabat dalam Perjalanan..

Tak akan rugi, hidup ditemani sahabat yang “mengenal jalan”.

Iya, saya meyakini benar kalimat ini. Setelah kemarin pagi mesti mendadak pergi ke Cilegon. Bukan soal mendadak waktunya. Melainkan mendadak tanpa sopir yang biasa mengantar. Padahal saat diantar itulah, saya terbiasa duduk manis membaca buku. Atau mungkin ngobrol dengan beliau yang mengantarkan saya. Atau kadang kala mengemil makanan ringan. Atau mungkin yang terakhir, duduk memejam, menyandar lebih ke belakang bila udara dari mulut tak mampu tertahan.

Namun kemarin, adalah hari dimana saya mendadak mesti berangkat sendiri. Lebih tepatnya bersama teman yang juga masih “meraba” tempat tujuan. Sayangnya, sebanyak apapun yang menemani, bila semuanya masih “meraba” maka nyaris seperti berjalan sendiri. Walaupun setidaknya, ada teman untuk berbagi serta merasakan bingung dan kesusahan yang sama.

Perjalanan tanpa orang yang “mengenal jalan” inilah yang menghilangkan ketentraman. Sebelum perjalanan, saya mesti tanya sana sini tentang lokasi persisnya, dan jalan-jalan yang akan membawa saya pada tujuan. Jangankan jauh-jauh, masuk dan keluar tol mana saja saya linglung. Padahal ternyata tol itu sering saya lewati, nyaris setiap hari. 😀

Ketenangan pun terusik ketika BWM hitam yang dikendarai menyodorkan saya pada perlintasan jalan. Lurus, kiri, atau kanan? Sungguh pilihan yang sebenarnya amat mudah bagi pak sopir yang biasa mengantar saya. Pemandangan alam dibalik jendela mobil yang biasanya saya nikmati, menjadi sebuah gambar mendebarkan, penuh ketidakpastian arah.

Detik-detik di mobil yang biasa saya manfaatkan untuk membaca, kini berubah menjadi detik-detik yang tak boleh terlewatkan untuk memperhatikan seluruh tanda dan arah jalan. Empuknya kursi dan nyamannya AC, nyaris tak mampu saya rasakan.

Memang benar, masih ada sahabat yang menemani. Menemani dengan kemampuan “meraba-raba”nya. Maka obrolan kami hanya sebatas diskusi orang-orang yang sama-sama meraba. Jika rabaan itu benar, kami bersorak. Dan ketika salah, senyum nyinyir sama-sama tersimpul menertawakan ketidaktahuan kami.

Walaupun akhirnya kami sampai pula di tempat tujuan, nyatanya kami harus berputar sana-sini terlebih dahulu, itu pun dengan hati yang was-was. Benar-benar telah tercabut ketentraman dan kenyamanan.

Jakarta-Cilegon, hanyalah perjalanan darat jarak pendek. Saya jadi membayangkan, perjalanan-perjalanan udara saya. Bagaimana jadinya bila saya dan teman yang sama-sama “meraba” arah itu harus mencari tempat tujuan dan mengemudikan sendiri pesawat tersebut menggantikan pilot yang “mengenal jalan”? hehehe 😀

Jika perjalanan fisik saja sedemikian membutuhkan sahabat yang “mengenal jalan”. Tentulah sebuah perjalanan jiwa lebih membutuhkannya lagi. Jiwa kita butuh ditunjukkan lokasi tujuan. Butuh ditunjukkan arah. Butuh ditunjukkan gerbang tolnya. Butuh ditunjukkan belokan mana saja. Butuh ditunjukkan tanda-tanda apa saja yang mengarah pada tujuan.

Dan apa yang dibutuhkan jiwa kita, semua jawabannya ada pada Allah yang Maha Mengetahui.

Maka dari itulah setiap muslim selalu mengemis ditunjukkan jalan. Paling sedikitnya 17 kali sehari dalam shalatnya. Kitalah insan yang tak mengenal arah itu. Kitalah insan yang membutuhkan sang Maha Tahu itu. Yang menunjukkan kita pada tujuan akhir perjalanan jiwa ini.

Maka mendekatlah kepadaNya, agar Ia menunjukkan jalan. Begitu kita dekat denganNya, Dialah yang akan “turun” menemani perjalanan kita. Yang syariatnya dalam wujud sahabat-sahabat kita yang telah “mengenal jalan”. Sahabat yang “mengenal jalan” inilah yang mengantar kita sampai ke tempat tujuan, sambil kita membaca buku, sambil ngemil makanan ringan, sambil menikmati sebagian keindahan duniawi. Dan inilah yang disebut dengan terpenuhinya kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat (fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah). Menikmati nikmat dunia dan sampai pada kebahagiaan di surga nan abadi.

Terima kasih sahabat…

Love you forever coz Allah. (Insan Sains)

Jakarta, 24 Februari 2009, 21:12 WIB

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

10 Responses

  1. Rindu berkata:

    Allah maha memberi petunjuk, dan tak akan sesat meski kita berada dihutan belantara nan gelap dan dingin…

    *saya menulis sesuatu di blog saya untuk sang musafir yang sedang dalam perjalanan*

  2. Insan berkata:

    ^_^ hahaha… malam ini postingan kita senanda ya..
    Hu um. Saya akan kembali menempuh perjalanan panjang. Saling doakan ya.

    Janji ya. Tak ada luka. Tak ada prasangka. Semuanya telah ikhlas karena Allah. Kita janji bertemu di ujung terakhir pemberhentian jiwa kita ya! SURGA… YANG LUASNYA SELUAS LANGIT DAN BUMI. YANG DISEDIAKAN BAGI ORANG-ORANG YANG SABAR.

  3. ari berkata:

    kadang-kadang ari juga bingung padahal jlnnya sering dilewati tapi karena dimobil suka keasyikan baca jd ga tengok kanan kiri makanya ga hafal-hafal :D, dan benar kata kak Rindu Allah Maha Pemberi Petunjuk, mari saling mendoakan agar kelak kita berkumpul di surga yg telah Allah janjikan bagi hamba-hambanya yg senantiasa dijalannya ^-^ 😀

  4. wi3nd berkata:

    Luv you too insaann..:P hehehh
    ** dipentun9 insan..

    hehheh..daku palin9 dudulz neeh klu sual jalan,tp anehnya temen2 percaya&mrasa nyaman den9anQ meski kadan9 nyasar2 heheh..

    san,yan9 terpentin9 adalah tujuan kita baik,maka akan dimudahkan olehNYA,aku selalu percaya ituh..

    amien san semo9a kita bisa bertemu diSURGANYA..:)

  5. Laki-laki Biasa berkata:

    “Buku” petunjuk arah di dunia ini sudah ada.. Al-Qur’an dan Hadits, tinggal kita mengamalkannya supaya gak tersesat dan nyasar kemana-mana.

    Take care kang.. 🙂

  6. anintadiary berkata:

    duh, postingannya dalem bgt deh kang.. 🙂

    semoga kita termasuk hamba Allah yang tidak tersesat oleh dunia ya kang…aamiin…
    apalagi tersesat oleh cinta..naudzubillah…
    duh, semoga tidak ya kang…hiyyy..ngeriii 😦

    btw, ga pernah Ol di FB kang?

  7. nenyok berkata:

    Salam
    Bukannya sombong gw ga pernah takut jika mesti jalan sendiri 😀 tapi Well jika itu kebutuhan akan seorang sahabat yang bisa jadi petunjuk jiwa kepada jalan kebaikan? siapa yang tidak butuh bukan?

  8. demoffy berkata:

    sahabat…

    tak dapat dipungkiri kaLau sahabat juga bagian dari hidup kita.. 🙂

  9. deltapapa berkata:

    ngintip blog-nya mas, ternyata isinya bagus-bagus.

  10. Bang Uddin berkata:

    Ijin ninggalin jejak ya gan…
    thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: