Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Selembut Dekapan Khadijah

Peristiwa yang luar biasa hadir dalam mimpi Muhammad. Menggiringnya menjadi pemuda yang sering menyendiri dalam sepinya gua. Merenung sendiri beberapa malam, dan pulang hanya mengambil bekal untuk kembali menepi dari bising kehidupan. Hingga akhirnya cahaya itu datang, dalam sesosok jibril yang besar bukan kepalang. Sekonyong-konyong menyeru Muhammad dengan kalimat “Bacalah!”

Kaget berbaur takut, seruan itu hanya berbalas geleng dan ucap, “Aku tidak bisa membaca”. Jibril pun mendekat, memeluk tubuh Muhammad erat. Dan kembali menyeru, “Bacalah!”

Muhammad lagi-lagi menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Dan jibril kembali mengeratkan pelukannya, “Bacalah!”. Dan Muhammad yang ummi itu pun telah nyata ketakutan. Matanya nanar. Tubuhnya bergetar dahsyat, bibirnya dingin dan terbata mengucap “Aku tidak bisa membaca”. Maka jibril pun melanjutkan firman “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”

Sekelebat jibril pergi, namun jiwa Muhammad masih dicekam ketakutan, Kini ia berlari ke rumah menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid. “Selimuti aku! Selimuti Aku!” pintanya gemetar. Maka Khadijah pun menyelimuti beliau dengan mesra, menidurkannya, memasukkan jari jemarinya pada lipatan jari jemari sang suami hingga saling menggenggam. Dan menunggunya hingga benar-benar tenang.

“Aku mengkhawatirkan diriku”, jelas Muhammad dengan ketakutan.

Khadijah memeluk suaminya, “Sungguh Allah tidak akan membuatmu bersedih selama-lamanya. Kamu adalah orang yang menyambung tali kasih sayang, menolong orang yang membutuhkan, membantu fakir miskin, menghormati tamu, dan orang yang menyampaikan kebenaran”.

Dan kalimat ini ibarat embun yang menyejukkan, pohon yang meneduhkan. Sungai gangga yang mengalir dari lisan Khadijah dan bermuara pada lautan jiwa Muhammad. Pelukan raga sang istri menghangatkan tubuh sang imam, namun kearifan lisan sang istri menghangatkan hingga menyelimuti jiwa.

“Suamiku, jika makhluk yang kau lihat di gua Hira mendatangimu lagi, maka beritahukanlah aku”, lindung Khadijah. “Ya”, jawab nabi singkat.

Dan jibril pun datang untuk yang kedua kali, maka dipanggillah Khadijah, “Wahai istriku Khadijah, itulah jibril. Dia datang kepadaku!”. Nyata wajahnya ketakutan. Namun dengan tenang sang istri mengucap, “Wahai suamiku, kemarilah. Duduklah diatas paha kiriku”. Nabi pun berdiri lantas duduk di atas paha kiri Khadijah. “Apa engkau masih melihatnya?” tanya Khadijah, “Ya, aku masih melihatnya” jawab Nabi.

Khadijah berkata, “Tolong pindah, suamiku! Duduklah di paha kananku” Nabi pun pindah ke paha kanan Khadijah. “Apakah engkau masih melihatnya duhai suamiku?”, tanya Khadijah. “Ya, aku masih melihatnya” jawab Nabi.

“Suamiku, sekarang duduklah di belakangku” Nabi pun duduk di belakang Khadijah. “Apakah engkau masih melihatnya?”, tanya Khadijah. “Masih” jawab Nabi. Dan Khadijah pun kemudian melepas penutup kepalanya, hingga terlihatlah rambut indahnya terurai, dan keindahan wajah bak seroja yang indah mempesona. “Apakah engkau masih melihatnya, wahai suamiku?”, Nabi menjawab “Tidak”

Khadijah kemudian berbalik memeluk Nabi, “Wahai suamiku, wahai nabi terpilih, yakinkan dirimu dan berbahagialah. Sungguh, dia benar-benar malaikat, bukan syetan yang terlaknat”

Itulah potret Khadijah yang senantiasa mendampingi Nabi dengan kesabaran, dengan penuh cinta dan kelembutan. Khadijahlah yang senantiasa membantu Nabi dengan hartanya, karena memang dialah perempuan dan saudagar kaya itu, dan Khadijah pulalah yang senantiasa menghibur Nabi kala ditimpa musibah, cercaan, cacian, hinaan kaum kafir. Senantiasa membersihkan wajah suaminya dari ludahan dan lemparan kotoran kaum kafir Quraisy. Senantiasa memberikan kehangatan disaat nyaris tak ada yang membela.

Dan Nabi pun memberikan pujian yang tak terhingga, meskipun Khadijah telah pergi mendahului “Sungguh, tiada yang bisa menggantikan kebaikan yang diberikan Allah kepadaku melebihi Khadijah. Dialah orang pertama yang beriman kepadaku, ketika orang-orang tidak mempercayaiku. Dialah orang pertama yang mempercayaiku, ketika orang-orang menganggap aku pembohong. Dialah orang yang memberikan hartanya kepadaku, ketika orang-orang menolak keberadaanku. Dialah satu-satunya istri yang memberiku keturunan”

Iya…. membaca kembali potret keluarga Nabi, membuat saya merenung dan berharap. Akankah Allah menitipkan kepada saya seorang istri yang bukan hanya shalehah, tapi juga berkah seperti Khadijah. Karena tak penting berapa lama kami dapat bersama. Melainkan bagaimana setiap pertemuan menambah kecintaan kepada Allah. Bagaimana tiap perkataan makin mendekatkan diri kepada Allah. Itulah yang dinamakan keberkahan, tak perlu banyak namun akibat dari kebaikannya senantiasa mengalir dan diingat hingga melegenda dan menjadi bintang di langit sejarah.

Hanya beberapa tahun Khadijah menemani Muhammad. Tapi keshalihahannya telah mengundang Allah menumbuhkan berkah pada jiwa Muhammad dan keluarganya, dan mencatat Khadijah sebagai seorang istri yang tak mampu tergantikan.

Duhai ukhti fillah rahimakumullah, tanamkan kecintaan kepada Allah di dalam jiwa, hadirkan sosok Khadijah di depan mata, semayamkan di dalam dada. Dan mintalah pertolongan kepada Allah untuk menjadikan ukhti fillah sekalian menjadi bintang-bintang sejarah lain yang berkerlip menemani kerlip bintang terbesar, Khadijah binti Khuwailid.

Shalawat dan salam untukmu ya Rosul, dan untuk istri-istrimu yang senantiasa membantu perjuanganmu dengan kesabaran dan cintanya. (Insan Sains)

Jakarta, 14 Maret 2009, 21:34 wib

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

11 Responses

  1. Insan berkata:

    ^_^ Peran seorang istri amatlah besar tak terkira. Dari rahimnyalah terlahir generasi-generasi Rabbani. Dari lisannyalah terdidik generasi-generasi pembaru. Bahkan di telapak kakinyalah surga berada.

    Besar harapan negeri ini akan kembali bangkit dengan hadirnya istri-istri yang shalehah dan berkah seindah seroja bernama Khadijah. Selamat berjuang untuk meng-copy-paste seluruh potret perempuan teladan ummat, dan menjadi bintang di langit sejarah.

    Mudah-mudahan Allah mempermudah setiap langkah kita…

  2. Insan berkata:

    ^_^ Baru saja keluar rumah, menghirup udara malam, dan mencari rembulan walaupun ternyata terhalang awan gemawan. Jalan-jalan menjernihkan pikiran setelah nulis dari tadi pagi, tapi nyatanya ide rada mandeg. Padahal baru halaman 19. Lagi pula saya baru nyadar bahwa dari tadi pagi perut belum diisi, jadi malam ini menyengaja keluar, jalan-jalan ke arah selatan jakarta.

    Sepanjang perjalanan, tidak sedikit saya melihat perempuan-perempuan sedang mojok dengan laki-laki. Ada yang ditempat terang, ada yang ditempat gelap. Rangkul merangkul. Genggam menggenggam. Ada yang duduk mesra di motor. Ada yang cuman berdua, ada yang bergerombol namun tetap berdua-dua. Pun ini yang terlihat mata, yang tak kasat mata pun (mungkin) banyak. Yang sedang telepon2an mesra, ataupun sampai yang hanya sms-sms-an saling menunjukkan perasaan yang dibalut gurauan.

    Na’udzubillah…

    Tapi saya yakin, ada di ujung sana, perempuan-perempuan yang hanya berdua dengan Allah. Memojok sendiri, menangisi dosa-dosanya. Berharap ampunan Allah. Dan bersiap untuk hari esok (insyaAllah) yang penuh dengan perjuangan untuk membangun negeri ini dengan akhlaq dan lisannya. Dan satu diantara perempuan-perempuan yang senantiasa menjaga kesucian itu, mungkin saja adalah ukhti yang membaca tulisan ini. Maka agungkanlah Allah, sembahlah Dia, kuatkan ketaqwaan, dan mohonlah kepadaNya agar senantiasa melindungi hati kita agar tetap suci, sesuci air zam-zam yang diberkahi.

  3. sweetstrawberry berkata:

    Subhanallah… 😀
    Jazakumullah atas tulisannya…
    Menginspirasi para saudari muslimah.. istri dan calon istri.. :mrgreen:

    Amiiin Allahumma Amiiin…
    semoga… 😉

  4. Insan berkata:

    @ Sweetstrawberry :
    Tapi saya tidak tahu, apakah Khadijah itu bisa masak nasi bakar daging gak yah? hahahaha… *nyindir*

    Setelah semaleman bikin saya ngiler, tunggulah pembalasan saya. Postingan berikut-berikutnya akan berisi Wisata Kuliner. hihihi… ^_^

  5. ari berkata:

    Subhanallah…. setuju dengan mba atik 😀

  6. Atik Savitri R. berkata:

    Wuih,,, sindirannya… hehehe 😆 krn diiming-imingin nasi bakar trus jadi begini deh… 😛

    Kalo Bunda Khadijah mungkin lebih hebat lagi masaknya.. bisa bikin gulai maryam, nasi kebuli, kambing bakar dsb… Hehehe… saya mah tidak ada apa2nya bila dibandingkan dg beliau.

    Namun berharap ingin bisa meneladani beliau..
    Ingin sekali seperti itu…. 😳
    menjadi bintang kecil yang ada di dekat bintang besar nan berkilau.. agar kerlipnya bisa ikut menirukan walau tak secerah sang bintang besar.

  7. sidikl27 berkata:

    [Menginspirasi para saudari muslimah.. istri dan calon istri..] hehe, amin

  8. anintadiary berkata:

    Subhanallah…

  9. wi3nd berkata:

    semo9a ALLAH men9hijabah doa dirimu insan..
    amien allhuma amien..

    eemmm..bisa nda ya seperti khadijah..?

  10. oasecinta berkata:

    Allahumma Shalli alla Muhammad Ya Rabbi Shalli alaihi wassalim…

  11. Nano berkata:

    Kalau memang Muhammad seorang nabi utusan sang pemcipta kenapa takut kepada molekat jibril nota bene yang akan memberi wahyu, kok janggal mendengar keterangan Muhammad.gak seru ceritanya……brooo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: