Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Mereguk Embun Hidayah

Tak penting seberapa buruk masa lalu kita.
Yang lebih penting adalah bagaimana masa kita hari ini,
dan ingin kita bawa ke mana sisanya?

Kalimat ini mungkin cukup subjektif, karena keluar dari lisan saya. Yang mungkin terucap sebagai kalimat pembelaan diri. Benar atau tidak, bagi saya masa lalu adalah hari-hari yang telah menjadi batu nisan, tidak akan kembali, dan hanya bisa dikenang untuk dijadikan kitab pelajaran hidup.

Seorang supir bandara di Banjarmasin kemarin telah membuka kembali memori-memori yang seyogyanya telah saya kubur dalam-dalam. Dalam perjalanan mengantarkan saya ke tempat tujuan, kami bertukar cerita hidup. Yang tentunya uban di kepala bapak itu tidak mampu saya tandingi dengan secuil umur yang baru saya lalui. Bapak tersebut banyak menceritakan kehidupan barunya yang telah meninggalkan jauh masa kelam lalunya. Tak perlu saya ungkap bagaimana keburukan masa lalunya. Air matanya yang tak terbendung saat menyetir cukup menjadi bukti betapa penyesalan sekaligus bahagia bercampur aduk hingga lisannya tak berhenti bergumam mengagungkan-Nya, mensyukuri “perempuan langit” yang diturunkan dengan kesabaran sepenuh bumi untuk menemaninya puluhan tahun hingga sampai kepada pertaubatan.

Mengubah masa lalu yang gelap menjadi cahaya yang terang benderang memang tidak mudah. Saat hidayah-Nya “diulurkan”, saat itulah kaki kita mesti berlari, tangan kita mesti menggapai. Tak cukup duduk seperti menunggu hujan, melainkan sebuah proses mengumpulkan tetes embun demi embun hingga cukup mewudhukan raga dan jiwa. Pun setelah hidayah ada di genggaman, perlu keistiqomahan melangkah pada jalan yang tak selamanya bertabur bunga, melainkan kadang kala dipenuhi duri hingga darah, begitu kata Buya Hamka.

Teringat saya dengan salah seorang sahabat. Terseok-seok dia menggenggam hidayah tersebut. Tak sanggup dia menahan ejekan teman lamanya. Perubahannya yang begitu drastis menjadikannya manusia baru yang nyaris menjadi aneh dimata teman-temannya. Dan “keanehan” itu menjadi bahan ejekan “sok alim”, “sok suci”, “sok taubat” dan “sok.. sok” yang lainnya. Dan perubahan itu bukan hanya membuat sekitarnya mengalihkan perhatian kepadanya, namun juga pada dirinya sendiri. Tak kuasa menahan beban batin, dia akhirnya melepaskan genggaman hidayah.

Tak lagi terdengar ia berkata, “A… sore ini ajarin saya baca Al-Quran ya!”. Tak lagi ada pancaran mata sambil berkata, “A… shalat ashar berjamaah yuk!”. Tak lagi terdengar semangat perubahannya, “A… pinjem buku-buku keislaman dong!”. Dan tak lagi terlihat jejaknya melangkah ke mushala kecil. Memang dia tidak kembali pada dunia kelamnya, tapi dia stagnant. Shock dengan perubahan diri dan lingkungannya.

Sudah berulang kali saya mengajaknya kembali. Tapi apalah daya dari ucapan seorang yang hina. Lagi pula Allahlah yang membolak-balik hati. Hingga suatu saat ada kesempatan bagi kami untuk bermain bulu tangkis bersama setelah berbulan-bulan kami tidak berolah raga. Dua jam kami bermain tanpa henti. Waktu yang cukup untuk membuat kaki kami pegal-pegal keesokan harinya karena sudah lama tidak diolahragakan. Padahal sehabis itu, kami berjanji untuk jogging ke Senayan esok pagi.

Dan seperti yang diperkirakan, kedatangan saya ke rumahnya pada pagi itu hanya mendapat penolakan karena kakinya terasa pegal bukan main. Dan saya hanya tersenyum melihat raut keluh pada wajahnya. Sambil pergi dari rumahnya, saya berkata, “Begitulah segala sesuatu di permulaan. Ada sakit, ada pegal. Namun akan hilang oleh kebiasaan alias keistiqomahan

Sederhana kalimat ini, tapi Allah menjadikannya ibarat obat yang selama ini dia cari. Dia sangat faham benar bahwa olah raga yang teratur akan membentuk ototnya, walaupun pada awalnya ada pegal dan sakit yang dirasa. Dan kini… meskipun Allah mentaqdirkan kami jauh. Tapi saya yakin saat ini dia ada dalam telaga hikmah. Karena setelah peristiwa itu, saya sering melihatnya duduk di mushala membaca mushaf walau dengan terbata-bata. Menyaksikannya selalu berada di shaf terdepan dalam jamaah shalat. Dan masa lalunya telah terkubur bersamaan dengan hidayah yang dia genggam hingga jasad dan jiwanya tercelup dengan sebaik-baik celupan. Yaitu celupan taqwa. Assalamu ‘alaikum sobat. Teruslah berjuang dengan sungguh-sungguh dimana pun engkau berada, menjadi berlian di tengah padang batu arang.

Masa lalu yang buruk memang sering menghantui. Tapi bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak memilih yang baik dan tidak berbuat yang terbaik. Bukan menjadi alasan bagi kita untuk menolak karunia terbaik yang Allah berikan. Mari kita terus mengubah diri kita. Dan setiap awal perubahan itu sama seperti mendorong meja atau mobil. Berat diawal, namun setelah mampu menggeser beberapa inci, akan ringan segala beban yang dirasa. (Insan Sains)

Jakarta, 5 April 2009, 22:05 WIB

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , ,

24 Responses

  1. wi3nd berkata:

    keeP istiq0maH…
    ituh yan9 terpentin9,meman9 untuk menjadi lebih baik selalu ada batu sandun9an…

    semo9a kita semua bisa melewatinya…

    welkambeekk suda dijkt rupana.. 🙂

  2. anintadiary berkata:

    *tears*
    duh kang, semoga Allah mengampuni masa laluku yg jauh dr hidayah…Semoga Allah tukar dgn keistiqomahan menjalani kenikmatan mencintainya..aamiin…

    doakan ya kang…doakan..*tears*

  3. nenyok berkata:

    Salam
    Istiqomah memang suatu yang tidak mudah ya, itu adalah seperti proses pencarian sepanjang masa, trims buat pencerahannya.

  4. alqifty berkata:

    Istiqomah…sungguh kata yang indah ya,meski setiap saya membaca atau mendengarnya selalu ada sesak yg tiba-tiba menyapa,semoga segera ia hadir dalam jiwa saya,tidak hanya membungkus raga…
    Nice posting:-)

  5. syelviapoe3 berkata:

    Perubahan yang signifikan terkadang tak mampu ditopang oleh ‘tongkat’ yang kukuh…

    Bukankah setiap kita adalah pengingat bagi yang lain…

    Semoga selalu istiqomah…

  6. Rindu berkata:

    Kini saatnya menjemput hidayah Aa, bukan menunggu hidayah 🙂

  7. Harsa berkata:

    setiap awal perubahan itu memang susah, banyak cobaannya, tapi kalau sudah mantap hatinya (mendapatkan hidayah) pasti brani mempertahankan perubahan itu….

    sudah lama ga berkunjung kesini… apa kabarnya,san?

  8. hmcahyo berkata:

    berkunjung kesini kayak ke blognya mas itmam [ itmam.wordpress.com ] salam kenal aja 🙂

    ehh.. ada mbak ade (rinduku) komen di atas 😀

  9. 3mnnm8 berkata:

    panjang banget postingannya.. ga kuat bacanya euy

  10. achoey berkata:

    sahabat
    lama gak seksini

    semoga hidayah menampak untukku 🙂

  11. mayapuspitasari berkata:

    Kl g salah, hidayah itu diberikan kepada orang non muslim sehingga dia kembali fitrah pada Islam..
    Sedangkan bagi yang sudah berislam kemudian dia berubah menjadi lebih baik lagi dalam berislam maka itu dinamakan taufik..

    Mudah-mudahan Allah Yang Maha Membolak-balik hati, meneguhkan hati kita semua dijalanNYA..

    Amiin Allahumma Amiin…

  12. Insan berkata:

    @teh Maya:
    Alhamdulillah. Ini untuk pertama kalinya ada komentar yang sangat saya senangi. Karena bisa menjadi ajang diskusi. Ya iyalah. Teh My gitu loh… 😀 Gimana kabar suami tercinta? sehat-sehat kan?

    Insan sempet mikir, bahkan harus buka-buka lagi kamus bahasa Arab sebelum menanggapi komentar teh My ini. Alhamdulillah ada pembaca yang merhatiin isi bahkan tata bahasa yang digunakan. Hatur nuhun nya teh.

    Sekedar sharing untuk menjadikan ladang ilmu buat kita, Insan ingin mendiskusikan tentang apa yang teh My sampaikan. Menurut apa yang Insan fahami sampai saat ini, memang dua kata itu terdapat perbedaan.

    1. Taufik
    -> Energi atau kekuatan yang Allah tanamkan pada seseorang, sehingga memudahkan orang tersebut untuk menerima dan mengamalkan kebenaran.

    2. Hidayah
    -> Petunjuk Allah yang didapat dari proses belajar. Petunjuk yang dimaksud itu adalah Al Qur’an dan Sunnah.

    Jadi menurut apa yang Insan fahami, hidayah itu tidak terbatas pada status kemusliman seseorang. Ambil contoh sebuah kasus, “Seseorang yang belum bisa dan belum terbiasa membaca Al-Quran setiap harinya”

    Apakah orang tersebut hanya menunggu “taufik” yang membuatnya mampu dan gemar membaca Al-Quran?

    Menurut saya tidak. Ia justu harus “menjemput hidayah” (mengutip perkataan tante Rindu 😀 ) dengan mendatangi kerabatnya yang mampu membaca Al-Quran, mempelajarinya, mencari tahu keutamaan-keutamaan membaca Al-Quran yang bisa memotivasinya gemar membaca Al-Quran, dsb. Dan insyaAllah, bila Allah ridha maka ia akan mampu membaca dan lisannya selalu basah dengan ayat-ayat suci. Ataupun jika Allah berkehendak, IA mungkin saja menurunkan “taufik”-Nya untuk mempermudah orang tersebut.

    Bisa jadi antara taufik dan hidayah, adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana akhir setiap khutbah selalu diakhiri dengan kalimat “billahi taufik wal hidayah“. Taufik dilanjutkan dengan Hidayah… 😀

    Wallahu ‘alam bishawab. Tapi sungguh, komentar teh My ini membuka wawasan baru untuk Insan. Dan tertarik mengetahui lebih jauh, walaupun arti kata tersebut tak penting bagi kita, yang lebih penting adalah esensi dari dua kata itu yang mampu kita hadirkan dalam keyakinan jiwa kita. Tul gak teh My?

    Kalo diperpanjang lagi, pasti seru teh My. Karena akan berkaitan juga dengan “Inayah”, “Ridha”, dan “Cinta”… hehehe 😀

    Syukron jazakillah..

  13. 1nd1r4 berkata:

    hidayah Allah kah yang membawa langkah saya hari ini kemari? saat ada cerita masa lalu yang tiba2 hadir kembali dan sungguh membuat hati tak tenang…thanks for sharing the story kang

  14. wi3nd berkata:

    [oot]

    hare inih boLe numpan9 minum secan9kir teh manis han9at bersama ya.?
    aku membuatkan 2 can9kir teh han9at manis..dan sepirin9 kue serta biskuit..

    tapi masih harus menun99u hin99a ma9rib,boleh yaa.. ?

    menun99u smabil tadarus…
    makasi san.. 🙂

    met bUka puasa yaa.. 🙂

  15. Insan berkata:

    @ mba Iin :
    Janten hoyong terang pangalamanana teh Iin. Iraha-iraha urang ngobrol deui yuk. ^_^
    *Sudah masuk level berapa nih bahasa Sundanya? Kalo sudah di intermediate, Insan pake Sunda buhun ah supaya masuk level expert. hehehe 😀 *

    @ Win3nd :
    Hari kamis selalu menjadi hari spesial buat Insan. Dan menjadi lebih spesial karena ada yang nemenin Insan buka puasa. Makasih ya Win3nd(ce). 🙂

    Eh.. shaum senin-kamis pekan depan, sekali-kali kita buka dengan secangkir coklat panas yuk. 😀

    Maaf belum sempet mampir ke “rumah” Win3nd, coz masih harus lembur buat ngolah data hasil pemilu kemaren. Buanyaks buangets, ampe puyeng liatnya.

  16. Rindu berkata:

    Belum ada tulisan baru ya kang? 🙂

  17. Insan berkata:

    @ Rindu :
    Alhamdulillah. Makasih mba sudah mengingatkan. Eh, lupa… gak suka dipanggil mba ya?

    Setiap hari selalu diusahakan menulis, hanya saja beberapa pekan ini, saya sedikit “pelit” untuk mempublish. Mungkin karena terlalu pribadi dan takut mengingatkan luka terhadap seseorang. Jadi saya urungkan, dan menyimpannya utuh hingga (insyaAllah) mudah-mudahan menjadi sebuah novel. 🙂

    Sekali lagi terima kasih telah mengingatkan Insan untuk terus menumbuhkan blog ini. Dan maaf belum sempat main lagi ke “kebun hikmah”.

    Hari Jum’at adalah hari special bagi setiap muslim. Sekedar mengingatkan kita, untuk mengisinya dengan amalan terbaik, sedekah terbaik, pakaian terbaik, perkataan terbaik, dan segala yang terbaik.

    Oia.. lupa memberitahu. Semua nomor handphone saya (IM3, Axis, dan XL) sudah saya ganti karena sesuatu hal. Maaf bila ada sms ataupun panggilan yang tidak terjawab.

  18. insanmuhamadi berkata:

    aslmlkm
    kunjungan pertama ke blog
    yg namanya sama dengan saya, hehe
    salam kenal kang..!

    wah, di sini bener2 kebun hikmah.
    harus sering2 berbagi kang..!
    biar orang yg menanti taufiq ini
    bisa terus mengejar hidayah.

    mohon izin,
    blognya saya link

  19. reallylife berkata:

    inilah yang terjadi pada saya sekarang, smoga embun itu menyejukkan hati kita semua

  20. bunga berkata:

    untuk istiqomah…agak susah yah…hff…karena iman fluktuatif…tapi…Dialah ALLAH…yang Maha Penyayang diantara para penyayang…selalu menyambut hamba-Nya yang ingin kembali…dan satu, iman gak mengalami titik jenuh…semangat bunga!!..makasih akang:_)

  21. Insan berkata:

    Teh Bungaaaaaa….!! 😦

  22. bunga berkata:

    iya akang, bunga disini…haduh…teriaknya keras bgt:P
    ———————————————————————-
    Insan : Aduh.. maaf ya teh Bunga. Serasa bertahun-tahun gak ketemu. Abisan suka menghilang tiba-tiba gituh. Makasih sudah nyambung lagi silaturahim di facebook.

  23. Harsa berkata:

    membaca replynya Insan ke Rindu saya cuman bisa mesem2 doank.. :D….pakabarnya,San? dah jarang keliatan nih.. :P.. semoga apa yang dituliskan di novelnya nanti benar2 menjadi hidayah ya? selalu ada doa…

  24. kating berkata:

    tersesat ditengah terminal.. bis mana yang harus kunaiki agar aku dapat kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: