Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Lukisan Kehidupan

Sudah lama ada rasa yang menghinggap di jemari, namun saya kehilangan kekuatan untuk menjatuhkannya pada tuts putih notebook kesayangan. Kini rasa itu makin membucah, hingga merelakan waktu yang tersisa untuk mengumpulkan mozaik-mozaik rasa itu dan menggantungkannya di rumah maya ini.

Sejak tiga bulan yang lalu, ada berbagai rasa yang menghampiri jiwa. Dan hari ini benar-benar terakumulasi dahsyat. Beberapa rasa dapat saya terjemahkan dalam kata, namun lebih banyak tidak mampu saya kemuka. Bukan perkara besar kecilnya rasa itu. Melainkan karena rasa adalah sesuatu yang tak mampu diraba dan dicerna mata, yang terkadang hanya bisa dirasa hingga rasa itu mengemuka menjadi sebuah gerak nyata.

Ada rasa bimbang. Rasa yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Tak bisa konsentrasi. Bahkan ketika rutinitas membaca yang biasanya menyenangkan hingga tak mendengar sekeliling. Namun beberapa waktu lalu tiba-tiba menjadi gundah gulana. Rasa ini pula yang membuat geraham saya tak lagi asyik mengunyah.

Ada pula rasa sedih. Rasa yang membuat wajah saya menjadi kusut masai, tak bercahaya. Bahkan kehilangan gairah untuk menjemput segala yang terbaik dalam hidup. Pada saat seperti ini, raga saya seakan terbelenggu, jiwa saya untuk beberapa saat terkanal. Ibadah yang seharusnya mampu masuk pada tataran spiritual, hanya mampu sampai pada gerak fisik ritual. Maka jangan ditanya untuk masalah quantitas. Pasti babak belur. Kehilangan sensasi. Hidup segan mati tak mau. Tak jarang bukan senyum yang mengemuka, kadang-kadang ada air mata.

Dan ada rasa bahagia. Rasa inilah yang bagi saya (dan mungkin bagi semua orang) sepakat ingin memilikinya. Rasa yang membuat jiwa kita berada di pucuk keemasan. Rasa yang membuat setiap kuncup mekar mempesona. Rasa yang tak bisa dipungkiri mampu menyimpul senyum-senyum sendiri menebar dimana rasa itu muncul. Ketika rasa ini menghiasi dinding jiwa kita, dunia yang menjadi satuan ruang gerak kita menjadi luas terbentang. Yang sebagai reaksi hukum kekekalan energi, maka satuan waktu yang kita miliki menjadi makin menyusut, memendek tipis. Ah.. seandainya saja rasa ini bisa kekal untuk selamanya…. ^_^

Ada pula rasa harap dan cemas. Rasa yang ibarat dua keping mata uang yang tak mungkin terbelah. Kalau pun terbelah, niscaya kehilangan makna, hambar yang pasti dirasa. Iyah, inilah rasa yang ketika kita mendambakan sesuatu, seseorang, (dan se-se yang lainnya) agar ditakdirkan menjadi bagian dalam hidup kita. Dan rasa ini makin dahsyat ketika saudaranya mulai mengemuka kemungkinan-kemungkinan harapan yang tak kunjung nyata.

Atau ada juga rasa yang merupakan campuran dari sedih, bahagia, harap, dan cemas. Rasa yang membuat saya mengingat sesuatu itu membuat jantung saya berolah raga. Sampai-sampai menghadir keringat dingin di kening saya. Benar-benar dingin tapi menyejukkan. Yang ingin melihat tapi menutup mata. Yang ingin mendengar tapi menutup telinga. Yang ingin merasakan, tapi malah dag-dig-dug. Itulah rasa “deg-deg-an”… Ukh… rasa yang dahsyat… ^_^ Tangan saya saja sampe gemetaran.

Semua rasa itu semakin sempurna hari ini. Setelah buka shaum kemarin, dapat berita menggembirakan. (*susah diungkapkan kata-kata*)

Saya jadi teringat perkataannya ustadz Anis Matta,

“Kehidupan ini sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap manusia akan merasakan begitu banyak warna kehidupan. Ia mungkin mencintai sebagian warna tersebut. Akan tetapi, ia pasti tidak akan mencintai semua warna itu. Demikian pula dengan perasaan kita. Semua warna kehidupan yang kita alami, akan kita respon dengan berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda. Maka, ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas, ada gembira di depan sedih. Kita merasakan semua warna perasaan itu, sebagai respon kita terhadap berbagai peristiwa kehidupan yang kita alami”

rainbow copy

Iya, saya menikmati semua warna ini sebagai sebuah bagian yang utuh, tidak terpisah. Melihatnya dalam sebuah bingkai besar kehidupan yang saya beri nama โ€œLukisan Hidup seorang Insanโ€. Sebuah lukisan indah dari Allah, hasil goresan warna-warna yang berbeda. Atau seperti alunan gitar yang akan indah bila nada yang dipetik silih berganti. Ya Allah, terima kasih atas setiap warna yang Engkau goreskan pada pelangi jiwaku.

Kira-kira saat ini
rasa seperti apakah yang menyeruak dalam jiwamu, kawan? (Insan Sains)

Jakarta, 22 Mei 2009, 04:26 WIB

Iklan

Filed under: Personal, , , , , , , , , , , ,

4 Responses

  1. wi3nd berkata:

    rasa strawberyyyyyyy.. ๐Ÿ˜›
    hehhe,,,

    hemmmm jadi ituh ya san.. ๐Ÿ™‚
    ikut senan9s jadinya,.
    nikmati sajah semua rasa yan9 ada..

    aku suka pelan9inya hehehhehe..

    klu ditanya saat inih ada saTu rasa yan9 sedan9 merasuk,tapi tidak seindah seperti pelan9i,dan aku tetap menikmatinya,men9an99ap ini adalah fase yan9 harus dilalui,meski pahits,tapi semuanya akan indah kembali dan menjadi manis,dan aku percaya ituh ๐Ÿ™‚

  2. nenyok berkata:

    Salam
    Rasa mint, ya gw suka rasa itu dingin nyess menyejukan, haiyah, sabarlah bro ntar dapet gantinya, emang siy klo lagi jatuh cinta aja semuanya berasa indah eh giliran patah hati nah itu dia yang bikin gundah gulana he..he..
    *yah tau sendiri, gw kan seneng sotoy klo ngomongin elu kqkqkqkqkqk…

  3. desika berkata:

    assalammu’alaikum wr.wb.

    mas, ikutan baca2 ya…

    maaf nih baru minta izin skrg.
    sekalian izin buat yg lain.
    hehehe…

    wassalam…

  4. yunda berkata:

    assalamualaikum wr wb

    pertama saya kira itu cinta
    lalu jadi benci
    saya baca terus seperti arti dari beberapa rasa
    setelah selesai membacanya saya bisa menjawab klau itu adl ungkapan rasa syukur…

    wassalamualaikum wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: