Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Ketika Rumput Bertasbih

Sejak film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) digarap, telinga saya nyaris bosan mendengar kata-kata “KCB”. Mulai dari brosur, pamplet, kegiatan dan foto-foto saat audisi, make up artis, kaos-kaos, rencana launching, road show, press conference dan segala macamnya yang mau tidak mau saya dengar dan tidak sengaja saya baca. Seandainya saya bukan bintang KCB. Eh.. yang ini mah gak usah berandai-andai, lah wong saya memang bukan bintangnya kok. ๐Ÿ˜€

Tulisan saya ini bukan hendak memperbincangkan Cinta yang bertasbih. Karena saya sendiri tidak mengerti bagaimana tasbihnya cinta itu. Yang jelas kita mesti bersiap-siap agar ketika cinta bersemi, maka harus berbuah surga. Tapi bagaimana jika pohon itu belum mampu berbuah? Yuk, kita dengarkan bagaimana Ketika Rumput Bertasbih….

grass

Jika pohon-pohon meranum buah untuk membuktikan dzikirnya. Maka bagaimanakah dengan rerumputan? Seandainya kita mampu bertukar kata dengan rumput, maka pertanyaan tersebut mungkin ingin kita ajukan. Sebagaimana seorang penyanyi legendaris kita, Ebiet G Ade mengutipkan dalam sebuah syair lagunya, โ€œTanyalah pada rumput yang bergoyangโ€. Atau jika tidak demikian, seandainya saja kita mampu mendengar bagaimana desah tasbihnya rerumputan di padang ilalang. Bukankah semua makhluk yang ada di semesta ini senantiasa bertasbih kepada Zat Yang Maha Tunggal? Yang telah mencipta segala tanpa cacat satu noktah pun.

Atau mungkin kita tak perlu menunggu mukjizat agar mampu mendengar tasbihnya rerumputan, pun tak perlu belajar bagaimana berbahasa dengan ilalang. Mungkin saja yang kita butuhkan adalah sekedar tatapan. Menatap rumput dengan sebulir kekaguman terhadap sang pencipta. Bukankah Dia telah menganugerahkan kepada kita, mata untuk dapat melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk memahami?

Rumput memang tak pernah berbuah. Ia bahkan selalu dipangkas. Diinjak lalu lalang kaki. Dihempas angin ke sana kemari. Tapi lihatlah ia. Sekali dipangkas, maka tak pernah lelah untuk menjulang kembali. Dipangkas lagi, dan ia pun tumbuh lagi. Begitu seterusnya, karena pekerjaannya hanyalah berbuat. Begitu apa yang diperbuat diambil, tak lantas ia menjadi kerdil. Ia tetap tumbuh dan tumbuh, berapa sering pun ia dipangkas, ia akan tetap tumbuh pada ukuran seharusnya.

Bila ia pun kemudian diinjak ribuan kaki, tak menjadikannya lemah dan mati. Ia akan bangkit bersama siraman hujan dan semburan terik mentari. Dan keindahan rerumputan justru terlihat indah bersama hempasan angin. Sekali angin berhembus ke utara, maka padang rumput dipenuhi riuh halus rumput dari selatan yang secara estafet bungkuk membisik kabar. Dan begitu angin berbalik arah, giliran rumput dari utara yang bungkuk membisik kabar, mengestafetkan kabar hingga ke rumput selatan. Barisan yang begitu rapih dalam formasi bungkuk-berdiri yang begitu kompak.

Mungkin, sebagai pemegang amanah langit, kita sebagai manusia perlu belajar banyak kepada rumput. Bagaimana dzikirnya telah terealisasi melalui keistiqomahannya untuk terus tumbuh mencapai harapan, melalui ketegarannya menghadapi injakan dan cacian, serta dari caranya melakukan amal jamaah sehingga terlihat indah, terdengar bagai melodi alam yang meng-esa-kan penciptanya. (Insan Sains)

Jakarta, 23 Mei 2009, 17:01 WIB

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , , ,

15 Responses

  1. aisalwa berkata:

    ~_~

    begitulah seharusnya kita melihat sesuatu, kepada hal-hal yang lebih luas yang menjadikan kita semakin mencintai Yang Maha Kuasa. Sebab membicarakan cinta antar manusia tak akan ada habisnnya. Gi bosan mendengar kisah cinta antar manusia lain jenis.

  2. wi3nd berkata:

    insaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn.. ๐Ÿ™‚
    hehehehehehhehe

    **srius komen
    umm..emm..iya ju9a yaa..meski sdua dipoton9,diinjaks,dibuan9,tapi rumput tetap sajah tumbuh,tak kenal lelah,bahkan makin subur den9an siraman hujan..dan sinar mentari

    harus belajar la9i neehh
    **melihatdiriyan9kianjauu

    ten9kyu san..
    **pulan9den9ansejutatanyadihati

  3. Djoko Hartojo berkata:

    Subhaanallah.

  4. nenyok berkata:

    salam
    mungkin karena itulah gw suku rumput liar atau ilalang, intinya ya maju tak gentar hadapi kehidupan, jadikan Alloh sebagai sandaran di setiap langkah hingga “dunia” memang hanya titipan belaka termasuk soal cinta dan soal2 lainnya, *halah
    Eh gw kok ga minat banget siy soal “Cinta bertasbih itu…atau lom kali ya…

  5. insanmuhamadi berkata:

    waduh akhii
    maaf banget
    dah lama gak ke sini..!

    subhanallah,
    postingannya semakin mantap saja..!
    semangat, kita harus bangkit,
    jangan berhenti..!

  6. hmcahyo berkata:

    salam mampir aja ๐Ÿ™‚

  7. indra1082 berkata:

    Kirain ada judul film baru, hehehehe
    Subhanallah….

  8. shofiyah berkata:

    Subhanalloh Alloh maha pencipta..,
    Rumput tetap hidup walau diinjak..,tapi pohon kokoh tak terkalahkan…
    jadi rumput atau pohon itu pilihan..hihi
    *nyambung ga pak?

    setuju sama teteh nenyok ga penting bangets seh segala film kayak begonoan….huhhhh
    merengut >_<

  9. syelviapoe3 berkata:

    Aroma rumput..
    membisikan zikir teduh dikala tiap manusia terlena dengan dunianya

  10. Rindu berkata:

    sungguh alam adalah guru kita yah … bumi, air, tanah, rumput, padang tandus bahkan. Subhanallah.

  11. sakainget berkata:

    dalem euy… ๐Ÿ˜€ mantabzzzzzz
    kunjungan dinas rutin dari – sakainget

  12. anintadiary berkata:

    dan rumput rela tandus dan kering dulu baru menghijau….itu yg biasa terjadi di lahan baru…

    Rindu benar…alam adlh guru terbaik…dan Allah tidak menciptakan sesuatu dgn kesia-siaan…Maha Sempurna Allah…

    tulisan yg bagus kang..very inspiring ๐Ÿ™‚

  13. documentdinda berkata:

    setujuuu, tulisannya bagus.. apakah kita bisa sekuat dan setegar rumput itu saat menghadapi problema hidup??? jawabnya “ya tentu saja..” ๐Ÿ˜‰

  14. 4z1z4h berkata:

    analogi yang cerdas, matlab… eh salah mantab akh:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: