Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Lentera Malam

“Siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, maka ubahlah hal itu dengan tangannya, apabila tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Dan bila sudah tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan demikian itu adalah selemah-lemah iman” (HR. Muslim)

Minggu malam kemarin saya pergi merapihkan rambut yang sudah panjang. Tidak nyaman rasanya memiliki rambut panjang. Mesti selalu menyisir setelah basuhan wudhu ke kepala memberantakkan sisiran rapihnya. Juga tidak nyaman dengan rambut halus yang sudah menyambung jambang di pinggir telinga dengan jenggot yang makin melebat. Temen kantor bilang sudah mirip Wolferine. Akhirnya malam itu pun saya pergi ke tukang pangkas rambut. (Btw meskipun namanya pangkas rambut “SAHABAT” tapi tetap saja kok harus bayar ya? ^_^ )

Bagi saya, malam itu bukan hanya terjadi pemangkasan rambut, melainkan juga pemangkasan kebiasaan. Sambil berkaca saat sedikit demi sedikit rambut dipangkas, saya bertekad dalam hati bahwa harus ada yang berubah dalam diri saya, memangkas kebiasaan-kebiasaan buruk, memangkas candu yang membuat saya gentar melakukan kebaikan, memangkas segala hal yang jauh dari ridha-Nya. Bukan sekedar Insan yang hidup acuh tak acuh kemarin, tapi harus menjadi Insan yang lebih peduli hari ini. Bukan sekedar Insan yang mengurut dada ketika melihat kemungkaran, melainkan harus menjadi Insan yang memberi sesuatu untuk perubahan.

Dulu saya acuh ketika melihat orang-orang mabuk di warung jamu. Ternyata jamu bisa bikin mabuk ya? Ya iyalah yang diminum jamu setan. Tapi malam itu, rasanya saya ngeri mengingat hadist pembuka tulisan ini. “bila melihat kemungkaran, ubahlah”. Hadist ke-34 dari hadist Arbain ini sungguh telah memecahkan genderang perang batin dalam jiwa saya. Hati kecil mengatakan, “luruskan”, yang lain membisikkan “pulang saja”. Dahsyat bukan main pergolakan batin itu. Ada malu di belakang berani, ada takut di depan niat, ada semangat di tahan langkah.

Keringat dingin mengucur, tangan bergetar, hati bergejolak. Langkah makin dekat dengan tempat maksiat, namun jiwa belum mengambil ancang. “Sudah… doakan saja, yang penting berbuat daripada tidak sama sekali” begitu bisik si hitam. “Mengubah dengan tangan lebih mulia kawan…!” yakin si putih. Saat itu saya tersadar, bahwa hidup bukanlah pilihan, melainkan melangkah pada jalan yang sudah ditentukan. Akhirnya dengan membawa serta Allah, “bismillahi rahmani rahim” saya duduk di warung jamu itu.

Memandang gelas-gelas hitam yang bau menyengat. Mual? Iya, benar-benar mual. Apalagi mencium nafas si “tuan-tuan khamar” yang kaget setengah mati melihat saya duduk di sampingnya. Aneh bin kaget, karena si laki-laki bau kencur ini tiba-tiba itikaf di tempat mabuk dan meninggalkan tahiyatul masjidnya. Tak banyak yang disampaikan, kecuali menyambung lisan dari lisan mulia al-Mustafa, Muhammad saw. Namun malam itu telah menjadi bukti bahwa Allah-lah yang menunjukkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan menahan hidayah dari siapa yang dikehendaki-Nya. Berjam-jam berlalu tanpa terasa sudah jam setengah satu malam. Saatnya pulang dengan membawa sebuah janji, bahwa sedikit-demi-sedikit mereka akan meninggalkan kebiasaan buruknya.

Saya tidak pernah setuju jika dakwah hanya diartikan sebagai “bicara di depan mimbar”. Yang lahir hanyalah dai-dai karbitan, dai-dai yang menjadikan dakwah sebagai tontonan, dai-dai yang menjual agama demi tenar sekelas artis. Dan saya lebih tidak setuju jika dakwah diartikan “menghancurkan tempat kemungkaran”. Bukankah para ulama besar seperti Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din nya, Imam ibnu Taimiyah dalam al-Hisbah fi al-Islam nya, Prof. Dr. Abd Al-Karim Zaidan dalam Ushul al-Da’wah nya pernah mengatakan bahwa untuk mencegah kemungkaran tidak boleh menimbulkan kemungkaran baru. Lantas atas dasar apakah suatu kelompok melegalkan pengrusakan tempat-tempat maksiat mengatasnamakan Islam? Bukankah telah jelas kalimat dalam hadist diatas, “ubahlah” bukan “rusaklah”. (Loh kok saya jadi esmosssi begini ini teh?)

Dan malam kemarin menjadi malam pelajaran berharga yang Allah berikan pada saya. Bahwa sebenarnya setiap orang ingin menjadi baik. Hanya saja kadang-kala lingkungan tak siap untuk menerima mereka menjadi baik. Mereka hanya butuh dukungan dari kita. Mereka butuh guru yang mau mengajak mereka apa adanya, bukan guru yang menunjuk-nunjuk tanpa memberi contoh, bukan guru yang mencaci maki kesalahan-kesalahan mereka, melainkan guru yang memberikan mereka ruang untuk membasuh, ruang untuk tumbuh, dan ruang untuk menjaga kesungguhan.

Iya.. mereka butuh guru seperti itu.
Dan bisa jadi guru itu, is that YOU.
Selamat menjadi lentara, kawan.
Lentera dalam pekatnya hitam malam.
Seberkas cahaya yang memantulkan Sang Maha Cahaya.
Mencerminkannya dalam laku perbuatan.
Hingga jelas benang putih dan benang hitam.

Lentera_Insan

Kita meyakini bahwa ilmu itu tidak berhenti sampai diketahui, melainkan ada sebuah kewajiban untuk menyejarah menjadi amal perbuatan. Apa yang kita perbuat tidak lepas dari pertolongan Allah.Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita kemudahan dan kekuatan untuk mengamalkan ilmu yang dikaruniakan-Nya serta mengokohkan ke-istiqomah-an untuk tetap teguh mengamalkannya. (Insan Sains)

Jakarta, 26 Mei 2009, 22:40 WIB

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , , , , , , , ,

12 Responses

  1. kupatahu28 berkata:

    jangankan untuk merubah orang lain, merubah diri sendiri menjadi lebih baik aja butuh keberanian….

  2. hanif berkata:

    Ilmu itu cahaya illahi yang akan menuntun manusia menemukan Rabbnya

  3. shofiyyyyyy berkata:

    hmm.., aja deh

  4. apple berkata:

    Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia…

    mari berlomba-lomba melakukan kebaikan, bermanfaatlah………^————–^

  5. syelviapoe3 berkata:

    Setidaknya kita berusaha..meski dengan satu tangan..semoga tangan berikutnya ikut terulur..

  6. wi3nd berkata:

    saTu kata wat dirimu : ” saluutt..!!”

    smo9a ALLAH selalu melindun9imu san,..
    dan hidayah datan9 pada mereka,amieenn.

  7. Rindu berkata:

    diamnya adalah dzikir dan perkataannya adalah dakwah begitulah lentera …

  8. reallylife berkata:

    lentera itu, kemana ya perginya???
    semoga Allah tetap meridoi dan memberikan lentera itu padaku sebagai penerang jalan kehidupan

  9. anintadiary berkata:

    Subhanallah kang…semoga Allah terus meringankan langkah akang dlm dakwah ya..aamiin… 🙂

  10. daPHIInci berkata:

    subhanallah
    tapi bener deh mas
    kalo saya yg jadi mas, mungkin saya akan mengikuti bisikan si hitam yaitu mendoakan.
    karna bisikan si Putih sulit dan perlu kekuatan hati untuk menjalankannya.
    .
    bismillah
    smg saya dan yang lainnya bisa mngikuti jejak mas insan 🙂

  11. wawualif berkata:

    minta ijin ngopi gambar ‘senthir’ny Bos. Tq.

  12. okri rancak berkata:

    tidak ada kekuatan yg sanggup menghentikan kemauan kuat seseorang untuk mencapai tujuan.

    sebaliknya…

    tidak akan ada kekuatan apapun yg dapat membangkitkan kemauan orang yg malas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: