Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Akhir Sepenggal Nafas

Bulan Mei ini saya tutup dengan tujuh berita “kepulangan” kerabat-kerabat dekat. Mulai dari yang memiliki pertalian darah, hingga pertalian syahadat. Sungguh Allah sudah mengambil kembali jiwa mereka, namun kenangan tentang mereka masih tersimpan utuh dalam benak. Yang paling membuat saya sedih, adalah kepulangan tante yang sudah saya anggap ibu kedua. Selanjutnya adalah kepulangan sahabat saya yang hendak melangsungkan khitbah.

Berita “kepulangan” terakhir membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Dia adalah sahabat saya yang ingin sekali menyempurnakan separuh agamanya. Dan esok adalah hari paling mendebarkan baginya. Dia nyaris bingung hendak bicara apa katanya di depan orang tua sang calon. Antara bahagia dan deg-deg-an. Kurang dari semalam saja penantiannya itu, tapi Allah memilihnya untuk memanggilnya segera. Tidak Dia tunda barang sejenak, hingga sahabat saya ini merasakan apa yang dibayangkannya itu. *Allah memberikan pelajaran telak bagi saya atas berita ini*

Saya juga jadi teringat sahabat yang lebih muda 2 tahun dari saya, yang katanya masih ingin hidup. Karena masih ada cita-citanya yang belum nyata. Setidaknya dia ingin lulus sekolah, dan menikah. Namun takdir memang tidak mengenal kata kompromi. Allah akhirnya memanggilnya karena leukimia yang dideritanya. *saat saya menulis ini, saya jadi teringat pula seseorang, mudah-mudahan Allah memberikan kesembuhan kepadanya*

Peristiwa-peristiwa ini, akhirnya memaksa saya berada pada titik kritis. Untuk meyakini bahwa jangan pernah menunda barang sedetik pun kebaikan yang ingin kita lakukan. Sekarang beranikah kita membayangkan? Bila saat ajal akan menjemput selalu ada pengumuman satu minggu sebelum malaikat izrail mencabut. Bisakah kita membayangkan? Kira-kira apakah yang hendak kita lakukan dalam satu minggu terakhir itu?

Masihkah kita akan menunda-nunda shalat saat adzan berkumandang? Berapa juz Al-Quran-kah yang akan kita baca? Atau mungkin akan berapa kali khatamkah? Berapa pula rupiah yang hendak kita infaqkan?

Bila jatah satu minggu saja sudah sedemikian hebat rencana ibadah yang ingin kita lakukan, maka bagaimanakah bila pengumuman kematian itu hanyalah satu hari sebelum hari yang pasti tiba itu?

Niscaya bukan hanya ibadah wajib yang kita kebut. Ibadah sunnah pun kita tumpuk. Kita akan mengatur sedemikian rupa, sehingga waktu terakhir kita berada dalam waktu terbaik, dalam tempat kebaikan, dalam posisi terbaik, dalam amal terbaik. Berharap semua orang menjadi pemaaf saat kita memelas maaf atas setiap ucapan yang menyakiti, atas perbuatan mendzalimi.

Jika kita berani lebih dalam lagi berandai-andai. Jikalau berita kematian itu datang satu menit sebelum tiba. Kira-kira adakah lisan kita masih lupa berdzikir? Dalam waktu 60 detik yang tersisa itu adakah kita masih memikirkan harta di genggaman? Saat itu kita mungkin akan tersadar, bahwa tak ada gunanya lagi harta yang kita cari dengan kepayahan, toh beberapa detik lagi, kitalah manusia bangkrut yang hasilnya hanya dinikmati orang lain.

Lalu mampukah kita membayangkan bila berita kematian itu sampai sempit sekali waktunya? Hasilnya seharusnya memunculkan dua kebiasaan. Pertama, kebiasaan tidak menyia-nyiakan waktu kecuali untuk beribadah. Kedua, kebiasaan untuk selalu mensyukuri hidup karena ternyata Allah masih memberikan jatah umur. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa Allah merahasikan datangnya waktu kematian. Agar kita berada dalam ruh dan jasad yang siap dengan perbekalan ibadah, dan membalutnya dengan syukur kala raga dan ruh masih menyatu.

Namun kita akan merasa aneh pada diri kita sendiri, saat justru kematian itu dirahasiakan kita malah berleha-leha. Ibadah yang seharusnya berada dalam tataran kuantitas malah babak belur. Kualitas apa lagi. Kita seakan merasa yakin bahwa kita masih bisa bernafas hingga esok bahkan tahun depan.

Ya Allah ampunilah aku atas apa yang aku tulis. Jadikan detik ini menjadi detik untuk selalu mengingat-Mu, saat ini dan untuk selamanya. Bismillah, insyaAllah kita bukanlah orang-orang yang akan menunda-nunda kebaikan sekecil apapun. (Insan Sains)

Jakarta, 31 Mei 2009, 16:48 WIB

Iklan

Filed under: Uncategorized, , , , , ,

4 Responses

  1. alqifty berkata:

    Sudah lama tidak bersilaturahmi,Assalamu’alaikum kang..
    Sungguh muhasabah yang indah..

  2. wi3nd berkata:

    sory to hear all its.. 😦
    semo9a semua amal ibadah mreka ditrima oleh ALLAH,dan kel.yan9 ditin99alkan diberi ketaBahan,amienn..

    semo9a diri selalu men9in9atNYA,iyah jan9an pernah menunda nunda la9i..

    **duch..jadi nan9is neeh,in9eT maseh banyak hal yan9 belum aku lakukan..

  3. anintadiary berkata:

    Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun…ikut berbelasungkawa, kang…

    akang benar…seringkali kita lalai, seakan2 bs hidup trs selama2nya…pdhl kematian sangat sangat dekat..dan sangat sangat pasti..

    Irhamna Ya Robbana…Semoga kt termasuk org2 yang dikasihi Allah shg selalu dlm kebaikan hingga di ujung nafas kita..aamiin…

  4. daPHIInci berkata:

    innalillahi wa inna ilayhi rajiun.
    .
    humm,
    bbrapa hari ini bnyk skali saya mndpt berita berpulangnya teman2 saya ke pangkuan-Nya
    2 orang tman saya yg ingin mngikuti ujian masuk perguruan tinggi
    mereka pintar
    dan saya ykn mrka pasti mndapatkan univ tjuan mereka
    namun ALLAH berkehendak lain
    dngn memanggil mereka ke sisiNya
    .
    semoga ALLAH menerima semua amal perbuatan mereka dn mndptkan tmpt yg layak disisi-Nya.
    .
    amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: