Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

[Pelangi Ramadhan] Ruang dan Puasa

*Facebook Groups – Pelangi Ramadhan*

Ada tiga ruang yang membungkus kehidupan kita. Pertama, kita mengenal sebuah ruang yang kita namai ruang sejarah. Ruang hidup yang telah terjadi. Ruang yang menyimpan ribuan peristiwa, yang tak setitik pun kebahagiaan di ruang ini bisa kembali, dan tak secuil pun kesedihan yang telah terjadi akan datang lagi. Semua rasa itu telah terkunci rapat. Inilah ruang dalam hidup kita yang mau tidak mau hanya menjadi kenangan dan flash back dalam benak. Seberapa pun kita menginginkan kembali pada ruang sejarah ini, dan betapapun kita ingin mengubah apa yang telah diperbuat, niscaya merupakan kesia-siaan belaka. Karena ruang hidup kita telah di desain berjalan maju sebagaimana yang kita alami saat ini.

siluet
Ruang yang kedua, kita biasa menamainya dengan sebutan masa depan. Ruang yang secara fakta belum pasti datang. Dan belum pasti dibukakan untuk kita. Inilah ruang kosong yang bisa kita bayangkan apa saja isinya. Meskipun dengan segala ketidakpastian yang dimiliki ruang ini, kita mesti bersiap dengan kenyataan yang bakal ditemui nantinya. Namun karena unsur ketidakpastian itulah ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita usahakan di ruang ini. Sepakatlah jika kita menamai ruang ini dengan ruang kemungkinan. Ruang probabilitas.

Di ruang probabilitas inilah kita dapat meletakkan cita-cita dan impian. Cita-cita serta impian inilah yang membedakan orang yang hidup dan orang yang mati. Cita-citalah yang memungkinkan orang bersabar merajut hidupnya. Impianlah yang memungkinkan orang bergerak mengejar harapannya. Mereka yang menyimpan cita-cita dan impian di ruang probabilitas ini adalah mereka yang akan mendapat bongkahan semangat untuk mengejar segala kemungkinan-kemungkinan itu. Namun seberapa pun kita ingin meloncat dan berada di ruang probabilitas dengan segala kebahagiaan yang kita impikan, tetap saja kita tidak diberi kesempatan untuk mendahului. Raga kita terblockir pada sebuah ruang yang ke-tiga. Ruang yang kita namai ruang hidup.

Ruang hidup inilah, ruang sebenarnya yang kita miliki. Ruang dimana saat ini, kita sedang membaca tulisan ini. Ruang untuk menabur benih amal. Tak peduli apapun suasana hati kita saat ini, inilah ruang yang menjadi jatah kita hari ini.

Sejenak, mari kita membandingkan antara dua ruang. Di mana di dua ruang tersebut terdapat dua golongan. Golongan yang pertama, pada ruang sejarahnya pernah lelah-lelah berpuasa. Bengkak-bengkak kakinya berdiri melakukan shalat malam. Letihnya badan menjaga ibadah wajib serta mengerjakan ibadah sunnah. Serta segala kepayahan yang dilakukan agar puasanya sempurna. Namun di ruang hidup hari ini segala lelah dan letihnya telah sirna. Sebagaimana sirnanya lelah orang yang berpuasa tapi matanya masih melihat yang diharamkan, masih mendengar yang tak berguna. Lapar, haus dan letihnya orang-orang yang berpuasa hanya di ujung lidah. Segala letihnya itu pun telah hilang, pada ruang hidup hari ini.

Kedua golongan itu sama-sama telah meninggalkan ruang sejarah. Telah sama-sama berlapar-lapar dan berhaus-haus ria. Telah sama-sama letih berdiri. Bedanya, golongan pertama bersiap mereguk bahagia setelah lelah yang dirasa, sedangkan golongan kedua hanya habis merasakan lelahnya semata, tanpa bakal mendapat apa-apa di ruang probabilitas.

Golongan pertama, rela berlelah-lelah untuk waktu yang singkat, dan mendapatkan bahagia untuk waktu yang kekal. Sedangkan golongan kedua, memilih sedikit lelah untuk waktu yang singkat yang dikiranya dapat bahagia, padahal akhirnya mendapatkan kelelahan sempurna untuk waktu yang kekal.

Suatu hal yang mustahil bila kita adalah kembali dan memperbaiki ruang sejarah puasa-puasa kita. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah meletakkan cita-cita tentang bagaimana ramadhan yang kita impikan. Dan cita-cita perbaikan apa yang ingin kita jadikan untuk ramadhan yang mudah-mudahan akan datang pada kita di ruang probabilitas. (Insan Sains)

Jakarta, 3 Juni 2009, 05:16 WIB

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , , ,

8 Responses

  1. wi3nd berkata:

    iyah ya bentar la9i ramadhan tiba 🙂
    ada kebaha9ian tersendiri..

    semo9a sajah bisa terja9a dan menjadi lebih baik la9i…………….

  2. alqifty berkata:

    Amiin..ya wind,mari kita semua saling mengingatkan ya kang ‘..watawa shaobil haq,watawa shaobissobr..’:)

  3. BeLajaR berkata:

    semoga ALLAH masih memberi kesempatan untuk kita bertemu dgn ramadhan tahun ini.

  4. Insan berkata:

    Tak ada jaminan kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati “embun ramadhan”. Tapi kita masih dapat meletakkan cita-cita kita di ruang kemungkinan itu. Dan jika nyatanya kesempatan itu diberikan pada kita, kita telah siap dengan segala apa yang ada pada diri kita.

    Yang belum gabung di Groups Facebook “Pelangi Ramadhan” ikut gabung yuk. Di sana kita akan lebih banyak membahas persiapan2 dan langkah2 untuk memaksimalkan ramadhan (bila kesempatan itu diberikan untuk kita).

  5. Rindu berkata:

    ada satu ruang dalam jiwa saya yang saya kosongkan … entah itu ruang masa lalu, ruang sekarang atau masa depan, yang pasti disana hening ketika saya mencari sunyi, diruang itulah saya berlabuh dan ruang itu saya namakan ruang hening 🙂

  6. mampir lagi nih pak, setelah sekian lama ndak mampir kemari… 😉

  7. adiitya berkata:

    Assalammualaikum mas.. Senang rasanya menemukan blog ini..
    Salam kenal dari saya sayangnya saya gak main fb..tapi itu gak akan memutuskan silaturrahhim kita kan mas.. Insya Allah saya akan sering mampir kemari
    Salam
    – adit –

  8. mel berkata:

    halo sagasu….met kenal aja.salam dr temen blogger aja/….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: