Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Menyiram yang Gersang

*telah dipublikasikan di Pelangi Ramadhan (Facebook Group)*

umaya

Apa kabar sahabat Pelangi Ramadhan?

Alhamdulillah pintu gerbang Rajab sudah di depan mata. Sebulan kemudian, Sya’ban, dan akhirnya tibalah Ramadhan (insyaAllah). Ada yang tergetar hatinya mendengar kalimat ini, ada yang biasa saja. Tapi itulah pelangi rasa kita. Tidak mesti semuanya sama setiap hari, atau setiap bulannya. Kadang kala perlu berganti-ganti agar terlihat indah keseluruhan.

Di minggu ke-empat ini, kembali Pelangi Ramadhan menghadirkan tulisan pekanannya. Kali ini sengaja saya kutipkan potongan naskah dari buku yang mudah-mudahan Allah mengijinkan untuk terbit sebelum tiba Ramadhan tahun ini.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Filed under: ramadhan, Renungan, , , , , , , , ,

Pengantin Surga

“Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri,
tetapi menghembuskan kegagahan
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi menggelorakan”
(Buya Hamka)

“Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh
dan cobaan bagi ahli ibadah,”
(Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Ijinkan dua perkataan ulama terkemuka itu membuka tulisan saya kali ini (setelah kalimat Allah mengalir dari jiwa saya tentunya). Iya.. lagi-lagi saya akan berbicara tentang cinta, bahkan lebih jauh melanjutkan seri “Episode Cinta” yang ada di blog terdahulu. Jangan alergi dengan cinta ya, karena tanpa cinta mustahil muncul cemburu, dan tanpa cemburu mustahil tergerak taqwa. Karena hanya kepada Allahlah cinta tertinggi harusnya bermuara. (Kalimat ini saya nukil dari ceramah-ceramah Abuya)

Sebelum melanjutkan saya ingin pula menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ustadz Anis Matta yang banyak menginspirasi saya tentang penulisan bahasan “Cinta” ini (disamping Buya Hamka). Dan tulisan ini pun tidak jauh beda dari pemikiran-pemikiran beliau berdua. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Memiliki mengkaruniakan keberkahan dan keselamatan, serta menyampaikan pula pahala tulisan ini kepada mereka (bila ada). Dan syukur saya kepada Allah karena pernah menghadirkan sesosok “embun” dalam jiwa yang kini telah terganti sinar “mentari”. Mudah-mudahan Allah mengampuni tiap kesalahan saya dan ridha hingga “sore” yang pasti tiba membenam. Dan mungkin ini adalah tulisan terakhir saya sebelum hiatus, mengingat ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. ^_^

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Renungan, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ku Tunggu Engkau di Surau Cinta

Kawan..
Kusaksikan surau-surau cinta bertebaran di pelosok tanah ini. Megah berdiri kokoh. Tinggi menjulang sang menara, menjabat langit. Menghampar permadani empuk, memanja sila. Memasang sound system canggih, menuntun merdu suara sang muadzin.

Di negeri ini pula aku saksikan surau-surau cinta telah menjadi ajang lomba. Bermegah-megah memoles, mengacung-ngacung menara menjulang, memoles-moles kubah mengkilat, membubuhi emas mengejar prestise mesjid termegah.

Di pinggir-pinggir jalan, dua bola mataku sering dipertontonkan pemandangan sesosok pemuda berkoko dan berpeci. Mendendangkan syair islami serta shalawat nabi. Sembari menyodorkan kotak kencleng. Memelas si dermawan agar mau merogoh saku sempitnya.

Aneh memang. Shalawat dan salam kepada sang junjunan, bukan lagi kalimat suci memelas syafaat. Melainkan kalimat basi untuk mengemis uang recehan. Lebih sering ku dengar kalimat puji-pujian itu di pinggir-pinggir jalan, ketimbang terlantun indah di surau-surau cinta.

Masih terngiang suara adzan bersahutan dari satu ujung menara ke ujung menara yang lain. Ajakan menghadapkan wajah pada Sang Pemilik Hujjah. Seruan berkumpul, untuk membawa jiwa menuju al-falah (kemenangan, red). Namun nyinyir, kemegahan surau-surau cinta itu hanya mampu menggelegar kata, tanpa mampu mengumpulkan jiwa.

Kalaupun ada, hanyalah terkumpul segelintir jiwa-jiwa tua yang sadar hendak mengakhiri usia. Lalu dimanakah jiwa-jiwa muda yang penuh gelora?

Sesekali dalam sepekan, asaku dibumbung bahagia. Surau cinta penuh sesak dengan jamaah. Namun dalam hati, jiwaku merintih. Seruan jumat hanya mampu mengumpulkan fisik jamaah, tak mampu menghimpun jiwa-jiwa di dalamnya. Mereka duduk seolah bersimpuh. Nyatanya dininabobokan khutbah sang khatib. Bukan derai air mata yang mengucur, namun simbah air liur. Larut terbuai mimpi di siang bolong. Tiap orang tak pernah mau peduli dengan orang di sampingnya. Menganggap patung bisu yang tak punya masalah dan kegundahan hati. Padahal bisa jadi jiwa di sampingnya sedang menahan lapar yang melilit, terbelit hutang yang mencekik, atau mungkin jiwa yang membutuhkan bahu lain untuk melepaskan tangis masalahnya.

Kawan…
Aku tunggu engkau di surau cinta. Bersama-sama memenuhinya untuk menggantungkan cinta kepada sang pemilik cinta. (Insan Sains)

Masjid Al-Munawarah, Palembang, 5 Februari 2009, 17:03 WIB

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

Laman

Arsip

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Insan’s Projects

Insan Sains Projects

RSS Insan Sains Projects

Insan at Forum Sains

Insan Sains @ ForSa

RSS Forum Sains