Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

[Pelangi Ramadhan] Pesan Islami Yang Tak Syar’i

Apa kabar sahabat sekalian?

Kembali, Pelangi Ramadhan menghadirkan tulisan pekanan. Yang kali ini kita telah memasuki pekan ke-3 sejak group ini dilaunching. Di pekan ke-3 ini kita akan sedikit menyinggung tentang pesan-pesan, iklan-iklan, spanduk-spanduk, pamflet-pamflet yang bernuansa mengajak pada kebajikan, namun jika ditelaah lebih dalam ternyata di dalamnya mengandung unsur kekeliruan.

Berkah selalu diidentikkan dengan keberuntungan. Meski tidak sepenuhnya tepat, banyak orang mengejar berkah, terlebih pada saat bulan ramadhan tiba. Bukan hanya bagi kita yang berpuasa saja, melainkan bagi mereka-mereka yang tidak mempunyai kepentingan dengan puasa pun ikut-ikutan ingin mengejar berkah ramadhan alias (dalam pengertian sempit) meraup untung sebesar-besarnya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Filed under: Renungan, , , , , , , , , , ,

[Pelangi Ramadhan] Ruang dan Puasa

*Facebook Groups – Pelangi Ramadhan*

Ada tiga ruang yang membungkus kehidupan kita. Pertama, kita mengenal sebuah ruang yang kita namai ruang sejarah. Ruang hidup yang telah terjadi. Ruang yang menyimpan ribuan peristiwa, yang tak setitik pun kebahagiaan di ruang ini bisa kembali, dan tak secuil pun kesedihan yang telah terjadi akan datang lagi. Semua rasa itu telah terkunci rapat. Inilah ruang dalam hidup kita yang mau tidak mau hanya menjadi kenangan dan flash back dalam benak. Seberapa pun kita menginginkan kembali pada ruang sejarah ini, dan betapapun kita ingin mengubah apa yang telah diperbuat, niscaya merupakan kesia-siaan belaka. Karena ruang hidup kita telah di desain berjalan maju sebagaimana yang kita alami saat ini.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Renungan, , , , , , , , ,

Kalimat Cinta Paling Agung

Sepulang dari mengisi sebuah workshop di Tangerang, saya bertemu dengan seorang ibu muda di dalam sebuah angkot (beruntunglah sopir pribadi kantor tidak mengantarkan pulang sampai rumah). Tidak nampak guratan pengalaman menjadi seorang ibu. Dahi dan kulit wajahnya amat bersih dan nyaris tak berkerut. Meski demikian, tak sulit bagi ibu muda itu untuk memahami bahwa bayi yang sedang dipangkunya membutuhkan cinta.

Selendang coklat melingkar dari perut, pundak lalu ke punggung. Memangku si bayi dalam pangkuan cinta. Tangan yang satu menyangga kepala si bayi, dan tangan yang lain mendekap hangat menyelimuti. Sesekali dekapan itu berubah menjadi tepukan lembut. Tepukan mesra tanda cinta. Meyakinkan yang dicinta bahwa ada orang yang siap melindungi dan akan selalu bersama.

Sungguh saya terpesona menyaksikan cinta yang tepat berada di hadapan saya. Pandangan saya mulai meraba sekujur tubuh ibu muda itu, hingga lekatlah saya dengan wajah mungil si bayi. Nampak lembut kulitnya, masih sedikit memerah. Matanya terpejam nyaman. Bibir mungilnya tertutup santai. Sesekali bibir mungil itu bergerak-gerak imut. Menarik-narik dagu manisnya. Pipinya nyaris merekah. Benar-benar wajah tanpa beban. Wajah tak secuil khawatir. (Ah.. seandainya saya memiliki wajah seperti bayi tersebut)

Si bayi tak pernah bertanya akan dibawa kemana oleh ibunya. Tak juga ia bertanya mengapa harus menggunakan angkot. Tak juga bertanya akan berapa lama lagi perjalanan mereka. Bukan hanya si bayi tak mampu mengucap. Tapi karena itulah fitrahnya keyakinan (baca : iman). Ketika keraguan tak berbenih, maka tak akan ada tanya, yang ada hanyalah percaya. Percaya bahwa dia ada untuk saya, percaya bahwa dia tidak mungkin menyakiti saya, percaya bahwa dia mencintai saya. Kepercayaan inilah yang menjadikan hidup tak berbeban. Hidup bahagia tak ada kekhawatiran.

Begitulah seharusnya keyakinan yang saya miliki. Berserah totalitas, memusnahkan segala keraguan. Sehingga hanya akan ada satu keyakinan dan cinta. Yaitu yakin kepada Yang Maha Berkuasa dan mencintai Sang Pemberi Cinta. Cinta yang membuat kita yakin bahwa Allahlah pemberi kebahagiaan. Yakin bahwa Allah tak akan menyakiti hambaNya. Yakin bahwa Allahlah yang akan menolong.

Maka ketika keyakinan itu sudah ter-sibghah dalam diri. Tak akan lagi ada pertanyaan mengapa kita mesti shalat, mengapa kita mesti puasa, mengapa kita mesti menutup hijab, mengapa kita mesti menjaga pandangan, mengapa kita mesti ini, mengapa kita mesti itu, mengapa tidak boleh memakan daging babi, mengapa tidak boleh minum khamar, mengapa tidak boleh ini, mengapa tidak boleh itu.

Yang ada hanyalah kalimat cinta paling agung, “sami’na wa atha’na” (kami dengar, dan kami taat). Maka saat itulah kebahagiaan mampu kita rengkuh. Yang akan terpancar pada wajah layaknya bayi yang tertidur tanpa beban… (Insan Sains)

Jakarta, 21 Februari 2009, 01:02 am WIB

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

Laman

Arsip

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Insan’s Projects

Insan Sains Projects

RSS Insan Sains Projects

Insan at Forum Sains

Insan Sains @ ForSa

RSS Forum Sains