Para Pencari Ilmu & Hikmah

Ikon

Pencarian Tanpa Henti di Ujung Nafas yang Dititipkan

Aku Sahabatmu… [Movie]

Kalo lagi kehabisan ide nulis, bikin-bikin video kayak gini nie… ^_^

*** Upss… baru tahu ternyata format audio di WMV tidak dikenal sama si Youtube…

Maaf.. maaf… *specialy buat Wi3nd*

Videonya sedang di upload lagi…. ^_^

Iklan

Filed under: Renungan, , , ,

Mereguk Embun Hidayah

Tak penting seberapa buruk masa lalu kita.
Yang lebih penting adalah bagaimana masa kita hari ini,
dan ingin kita bawa ke mana sisanya?

Kalimat ini mungkin cukup subjektif, karena keluar dari lisan saya. Yang mungkin terucap sebagai kalimat pembelaan diri. Benar atau tidak, bagi saya masa lalu adalah hari-hari yang telah menjadi batu nisan, tidak akan kembali, dan hanya bisa dikenang untuk dijadikan kitab pelajaran hidup.

Seorang supir bandara di Banjarmasin kemarin telah membuka kembali memori-memori yang seyogyanya telah saya kubur dalam-dalam. Dalam perjalanan mengantarkan saya ke tempat tujuan, kami bertukar cerita hidup. Yang tentunya uban di kepala bapak itu tidak mampu saya tandingi dengan secuil umur yang baru saya lalui. Bapak tersebut banyak menceritakan kehidupan barunya yang telah meninggalkan jauh masa kelam lalunya. Tak perlu saya ungkap bagaimana keburukan masa lalunya. Air matanya yang tak terbendung saat menyetir cukup menjadi bukti betapa penyesalan sekaligus bahagia bercampur aduk hingga lisannya tak berhenti bergumam mengagungkan-Nya, mensyukuri “perempuan langit” yang diturunkan dengan kesabaran sepenuh bumi untuk menemaninya puluhan tahun hingga sampai kepada pertaubatan.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Renungan, , , , , , ,

Kenyang di Perempatan Jiwa

Seberapa seringkah kita makan? variatif jawabannya. Tapi saya menduga sebagian besar orang makan 2-3 kali sehari. Dan malam ini adalah makan malam saya untuk yang kesekian ribu kalinya. Namun beberapa pekan yang lalu, adalah satu diantara makan malam istimewa saya karena ditemani oleh sahabat-sahabat pengajian. Istimewa bukan hanya ditemani 13 orang sahabat, tapi juga istimewa karena kami makan malam di tempat yang istimewa di sebuah resto romantis dengan nuansa alam di belakang Bintaro Trace Center. Menyewa tempat paling eksklusif untuk menampung kami semua.

Nyaris keistimewaan di resto itu menjadi sempurna jika saja cita rasa masakan yang disuguhkan bukan hanya biasa-biasa saja. Pengalaman saya berteduh di beberapa kota di Indonesia, membuat lidah saya bukan hanya bisa menilai masakan itu enak atau tidak enak. Melainkan mampu mengatakan, kurang ini dan kurang itu.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Renungan, , , , , , , , , , ,

Jiwa yang Gila

Tadi sore, sehabis jalan-jalan di Gramedia saya mencoba satu menu untuk memenuhi hasrat kuliner saya “Nasi Goreng Gila”. He em. Gila emang. Bukan hanya manusia saja yang bisa gila, nasi goreng pun bisa dibuat gila.

Goreng nasi putih tanpa kecap, dicampur telur lalu ditambahi bumbu yang telah diracik sempurna. Em… nikmat. Namun bukan sampai di sini kita mendapatkan rasa yang mantap dari sepiring nasi goreng gila. Justru kelezatan yang lebih gila ada pada saus kental asam manis yang disiram di atas nasi goreng tanpa kecap tersebut. Saus ini berisi potongan kecil sea food, mulai dari cumi-cumi hingga udang, lalu ditambah sosis, suiran ayam, bakso, potongan cabe merah, dan segala macam lainnya. Hingga benar-benar pantas disebut “gila”.

Cukuplah nasi goreng gila ini menggambarkan bagaimana jiwa saya saat ini. Segala asa dan rasa bercampur aduk. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Personal, , , , , , ,

Sahabat dalam Perjalanan..

Tak akan rugi, hidup ditemani sahabat yang “mengenal jalan”.

Iya, saya meyakini benar kalimat ini. Setelah kemarin pagi mesti mendadak pergi ke Cilegon. Bukan soal mendadak waktunya. Melainkan mendadak tanpa sopir yang biasa mengantar. Padahal saat diantar itulah, saya terbiasa duduk manis membaca buku. Atau mungkin ngobrol dengan beliau yang mengantarkan saya. Atau kadang kala mengemil makanan ringan. Atau mungkin yang terakhir, duduk memejam, menyandar lebih ke belakang bila udara dari mulut tak mampu tertahan.

Namun kemarin, adalah hari dimana saya mendadak mesti berangkat sendiri. Lebih tepatnya bersama teman yang juga masih “meraba” tempat tujuan. Sayangnya, sebanyak apapun yang menemani, bila semuanya masih “meraba” maka nyaris seperti berjalan sendiri. Walaupun setidaknya, ada teman untuk berbagi serta merasakan bingung dan kesusahan yang sama.

Perjalanan tanpa orang yang “mengenal jalan” inilah yang menghilangkan ketentraman. Sebelum perjalanan, saya mesti tanya sana sini tentang lokasi persisnya, dan jalan-jalan yang akan membawa saya pada tujuan. Jangankan jauh-jauh, masuk dan keluar tol mana saja saya linglung. Padahal ternyata tol itu sering saya lewati, nyaris setiap hari. 😀

Ketenangan pun terusik ketika BWM hitam yang dikendarai menyodorkan saya pada perlintasan jalan. Lurus, kiri, atau kanan? Sungguh pilihan yang sebenarnya amat mudah bagi pak sopir yang biasa mengantar saya. Pemandangan alam dibalik jendela mobil yang biasanya saya nikmati, menjadi sebuah gambar mendebarkan, penuh ketidakpastian arah.

Detik-detik di mobil yang biasa saya manfaatkan untuk membaca, kini berubah menjadi detik-detik yang tak boleh terlewatkan untuk memperhatikan seluruh tanda dan arah jalan. Empuknya kursi dan nyamannya AC, nyaris tak mampu saya rasakan.

Memang benar, masih ada sahabat yang menemani. Menemani dengan kemampuan “meraba-raba”nya. Maka obrolan kami hanya sebatas diskusi orang-orang yang sama-sama meraba. Jika rabaan itu benar, kami bersorak. Dan ketika salah, senyum nyinyir sama-sama tersimpul menertawakan ketidaktahuan kami.

Walaupun akhirnya kami sampai pula di tempat tujuan, nyatanya kami harus berputar sana-sini terlebih dahulu, itu pun dengan hati yang was-was. Benar-benar telah tercabut ketentraman dan kenyamanan.

Jakarta-Cilegon, hanyalah perjalanan darat jarak pendek. Saya jadi membayangkan, perjalanan-perjalanan udara saya. Bagaimana jadinya bila saya dan teman yang sama-sama “meraba” arah itu harus mencari tempat tujuan dan mengemudikan sendiri pesawat tersebut menggantikan pilot yang “mengenal jalan”? hehehe 😀

Jika perjalanan fisik saja sedemikian membutuhkan sahabat yang “mengenal jalan”. Tentulah sebuah perjalanan jiwa lebih membutuhkannya lagi. Jiwa kita butuh ditunjukkan lokasi tujuan. Butuh ditunjukkan arah. Butuh ditunjukkan gerbang tolnya. Butuh ditunjukkan belokan mana saja. Butuh ditunjukkan tanda-tanda apa saja yang mengarah pada tujuan.

Dan apa yang dibutuhkan jiwa kita, semua jawabannya ada pada Allah yang Maha Mengetahui.

Maka dari itulah setiap muslim selalu mengemis ditunjukkan jalan. Paling sedikitnya 17 kali sehari dalam shalatnya. Kitalah insan yang tak mengenal arah itu. Kitalah insan yang membutuhkan sang Maha Tahu itu. Yang menunjukkan kita pada tujuan akhir perjalanan jiwa ini.

Maka mendekatlah kepadaNya, agar Ia menunjukkan jalan. Begitu kita dekat denganNya, Dialah yang akan “turun” menemani perjalanan kita. Yang syariatnya dalam wujud sahabat-sahabat kita yang telah “mengenal jalan”. Sahabat yang “mengenal jalan” inilah yang mengantar kita sampai ke tempat tujuan, sambil kita membaca buku, sambil ngemil makanan ringan, sambil menikmati sebagian keindahan duniawi. Dan inilah yang disebut dengan terpenuhinya kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat (fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah). Menikmati nikmat dunia dan sampai pada kebahagiaan di surga nan abadi.

Terima kasih sahabat…

Love you forever coz Allah. (Insan Sains)

Jakarta, 24 Februari 2009, 21:12 WIB

Filed under: Renungan, , , , , , , ,

Laman

Arsip

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Insan’s Projects

Insan Sains Projects

RSS Insan Sains Projects

Insan at Forum Sains

Insan Sains @ ForSa

RSS Forum Sains